Ilustrasi industri tahu di kawasan Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, 21 November 2019. Medcom.id/ Syaikhul Hadi
Ilustrasi industri tahu di kawasan Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, 21 November 2019. Medcom.id/ Syaikhul Hadi

Pengusaha Tahu di Sidoarjo Sudah Lama Gunakan Limbah Plastik

Nasional Impor Sampah Plastik
Syaikhul Hadi • 21 November 2019 15:00
Sidoarjo: Pengusaha tahu di kawasan Tropodo, Krian, Sidoarjo belum meyakini secara pasti kandungan dioksin yang ada pada telur milik warga di kawasan Tropodo disebabkan pembakaran sampah plastik. Sebab sejak beroperasinya industri tahu hingga saat ini belum sama sekali ada keluhan warga tentang kesehatan.
 
Pengusaha tahu, Mulyono mengatakan keberadaan industri tahu yang dikelola rumah tangga ini sudah lama berdiri. Bahkan turun temurun menjadi sandang pangan warga setempat.
 
"Sejak 2006, sebenarnya ini usaha nya orang tua, kemudian diturunkan kepada saya sampai sekarang," kata Mulyono saat dikonfirmasi, Kamis, 21 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mulyono menjelaskan sejak beroperasinya industri tahu hingga sekarang, pengusaha masih tetap menggunakan sampah plastik sebagai bahan pembakaran. Meski demikian belum ada keluhan apapun yang disampaikan warga.
 
"Seharusnya kalau memang berdampak kepada masyarakat, pengusaha sudah diprotes lebih dulu sama warga. Tapi buktinya sampai saat ini kan belum pernah ada. Kenapa kok muncul sekarang, ada apa," ungkap Mulyono.
 
Mulyono berharap ingin ada kepastian soal fakta dari dampak penggunaan plastik sebagai bahan bakar industri. Menurut Mulyono informasi simpang siur bisa menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat dan bisa merugikan pengusaha tahu.
 
"Kalau warga ditakut-takuti seperti ini kan bisa-bisa pindah. Ayolah, kehidupan warga disini sehari-harinya biasa biasa saja. Bahkan mereka juga tidak mengeluh kepada kami," jelas Mulyono.
 
Mulyono mengatakan dalam sehari produksi tahu miliknya bisa mencapai 28 kaleng. Per kaleng mencapai 11 kilogram. Sedangkan penggunaan satu truk sampah plastik bisa digunakan kisaran dua hari.
 
Sejatinya Mulyono pengusaha sah-sah saja beralih dari penggunaan sampah plastik sebagai pembakaran. Namun, hal itu akan berdampak pada omset yang diterima pengusaha.
 
"Ya kalau ada solusi yang baik, kami juga akan ikuti. Asal harganya tidak lebih mahal dari sampah plastik yang kita gunakan sehari-hari," pungkas Mulyono.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif