GeNose C19. Foto: Dok UGM.
GeNose C19. Foto: Dok UGM.

GeNose C19 akan Dikembangkan untuk Deteksi Kanker Serviks hingga Deteksi Bakteri

Ahmad Mustaqim • 22 Agustus 2022 18:11
Yogyakarta: Salah satu alat deteksi covid-19 buatan UGM, GeNose C19 kini tengah dalam proses perpanjangan izin edar. Tak hanya di dalam negeri, namun juga di sejumlah negara. 
 
"Saat ini GeNose C19 sedang dalam proses perpanjangan izin edar sekaligus mengepakkan sayap ke Malaysia, Singapura, Jepang, dan Kamboja, sambil terus dilakukan update berkala pada piranti lunak GeNose C19 ke versi terbaru 1.4.2 yang telah memiliki data base varian omicron, B.A. 3 dan B.A 5," kata Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama, Ignatius Susatyo Wijoyo di UGM, Senin, 22 Agustus 2022. 
 
Ia mengatakan apabila GeNose C19 saat itu mengikuti alur hilirisasi normal, akan kalah jauh dengan breathalizer lain (alat mirip GeNose versi Amerika) yang sedang diaplikasikan di dunia. Selain itu, pemanfaatan baru akan keluar pada tahun 2022 di mana kasus sudah tidak dominan sehingga hilirisasi tidak tepat waktu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, ia melanjutkan, breathalizer di Amerika Serikat baru April 2022 mendapatkan izin edar EUA. Lalu, juga belum ada publikasi atau hasil kajian ilmiah dari alat tersebut. Menurut Wijoyo, GeNose C19 secara tak langsung bisa disebut sebagai electronic nose untuk deteksi covid-19 di jajaran terdepan dunia. 
 
"Publikasi (hasil kajian) GeNose C19 harapannya menjadi sebuah hadiah kecil dari UGM untuk HUT ke 77 RI," kata dia. 
 
Baca: Teknologi Inovasi Mahasiswa UGM, Buat Umur Simpan VCO Lebih Panjang
 
Salah satu inventore GeNose C19, Kuwat Triyana mengatakan alat yang dikembangkan kampusnya akan diperluas inovasinya. Kuwat mengatakan beberapa mesin GeNose C19 yang merupakan mesin cadangan saat ini menjalani uji profiling yang segera dilanjutkan untuk uji diagnostik secara non-invasif. 
 
Ia menyebut beberapa hal di antaranya untuk deteksi kanker serviks melalui sampel urin pasien dan deteksi jenis bakteri pada ulkus diabetikum. Pengembangan dua fungsi itu dibiayai internal kampus. 
 
"Selain itu untuk deteksi tuberculosis (TB) melalui sampel nafas pasien dan deteksi sepsis pada neonates melalui sampel feses pasien lewat skema pandanaan hibah Matching Fund dan usulan pendanaan ke BRIN/LPDP," kata dia. 
 
Ke depan, ia melanjutkan, software Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dari GeNose C19 akan ditambahkan ke dalam sistem yang ada saat ini. Dengan begitu, ia menyebut GeNose C19 yang disertai penyesuaian dan modifikasi dapat digunakan untuk deteksi keempat hal itu. 
 
"Karena kondisinya normal, untuk keempat aplikasi GeNose C19 di atas, publikasi di jurnal internasional bereputasi akan dilakukan sebelum mendapatkan izin edar dari Kementrian Kesehatan," ungkapnya. 
 
(ALB)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif