Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Tersangka Rasialisme Mahasiswa Papua Mangkir dari Panggilan Polisi

Nasional rasialisme Kerusuhan Manokwari
Amaluddin • 30 Agustus 2019 16:50
Surabaya: Tri Susanti alias Mak Susi, tersangka penyebaran hoaks dan ujaran kebencian mangkir dari panggilan Polda Jawa Timur. Harusnya pemeriksaan Mak Susi dilaksanakan hari ini, Jumat, 30 Agustus 2019.
 
Kuasa Hukum Mak Susi, Sahid membenarkan pemeriksaan terhadap kliennya dijadwalkan hari ini di Ditreskrimsus Polda Jatim. Namun Mak Susi belum bisa memenuhi panggilan penyidik Polda Jatim lantaran sakit.
 
"Bu Susi badannya kurang fit, kurang sehat. Sudah berobat, sakit karena kelelahan kurang istirahat," kata Sahid saat dikonfirmasi

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sahid mengaku telah menyampaikan kepada penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim terkait kliennya belum bisa memenuhi panggilan. Untuk itu Sahid meminta kepada penyidik untuk mengagendakan ulang jadwal pemeriksaan.
 
"Belum tahu kapan agenda pemeriksaan ulang, tapi kami meminta penyidik untuk menjadwalkan ulang hari Senin atau Selasa. Yang jelas Bu Susi siap memenuhi panggilan dari tim penyidik," jelas Sahid.
 
Sementara Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan mengatakan tim penyidik sudah menyiapkan pertanyaan untuk Tri Susanti atau Mak Susi. Dia akan diperiksa sebagai tersangka kasus ujaran kebencian.
 
Menurut Luki hasil pemeriksaan itu nantinya akan menentukan apakah Mak Susi ditahan atau tidak. Kendati demikian, pemeriksaan terhadap Mak Susi ini terpaksa harus ditunda. "Ditunda atau tidak, nanti akan lihat perkembangannya ke penyidik," jelas Luki.
 
Polda Jatim telah menetapkan dua tersangka terkait insiden Asrama Mahasiswa Papua beberapa waktu lalu. Dia adalah Tri Susanti (52) yang berperan sebagai koordinator lapangan (korlap) dan mengerahkan massa untuk mendatangi asrama, dan tersangka berinisial SA.
 
Mak Susi dijerat Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) No. 19 Tahun 2019 tentang ITE. Lalu Pasal 160 KUHP tentang Peraturan Hukum Pidana. Sementara SA dijerat Undang-Undang nomor 40 tahun 2008 tentang diskriminasi.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif