Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro menunjukan barang bukti atas ungkap kasus perdagangan orang di Tangerang. (Azmi Samsul Maarif)
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro menunjukan barang bukti atas ungkap kasus perdagangan orang di Tangerang. (Azmi Samsul Maarif)

Polisi Ciduk Pasutri Pelaku Perdagangan Orang di Tangerang

Nasional perdagangan manusia tki ilegal Kabupaten Tangerang
Antara • 15 Desember 2021 16:44
Tangerang: Polresta Tangerang, Polda Banten, membongkar kasus perdagangan orang (human trafficking) di Kabupaten Tangerang. Tersangka adalah dua orang pasangan suami istri, berinisial AM dan UA warga asal Lampung.
 
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro mengatakan total keseluruhan sebanyak 56 orang menjadi korban aksi kejahatan mereka. Sebanyak 50 orang diantaranya sudah diberangkatkan ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal.
 
"Enam korban yang belum berangkat di antaranya, tiga laki-laki dan tiga perempuan, berinisial LN, S, AS, NYW, I dan SN," kata Wahyu di Tangerang, Rabu, 15 Desember 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan penangkapan tersangka berawal dari laporan polisi pada 17 November 2021, terkait adanya tempat penampungan tenaga kerja ilegal di Perumahan Pamong klaster A2 11 nomor 30, Desa Wanakerta, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang.
 
Baca: Propam Polda Sulsel Periksa Polisi yang Abaikan Korban Tabrak Lari
 
Kemudian, dari laporan itu pihaknya pun langsung melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap kedua tersangka yang berada di Tangerang tersebut.
 
"Hasil dari pemeriksaan terhadap 6 korban ini, ternyata yang bersangkutan diiming-imingi akan dipekerjakan di luar negeri daerah Timur Tengah seperti Turki dan Qatar," ujarnya.
 
Kedua pasangan suami istri yang diketahui asal Lampung ini, merekrut korban-korbannya melalui media sosial Facebook untuk dibekerjakan di luar negeri dengan gaji Rp12 juta sampai Rp16 juta per bulannya.
 
"Sebelum berangkat ke sana, korban diminta biaya Rp20 sampai Rp30 juta, dengan alasan untuk mengurus paspor, tiket pesawat, surat vaksinasi, dan visa," tuturnya.
 
Tersangka berkoordinasi dengan agen lainnya yang berada di luar negeri. Agen tersebut akan menyalurkan korban ke dua negara antara Turki dan Qatar.
 
"Tersangka sudah berkoordinasi dengan pihak luar, kemudian mereka akan mengantar korban untuk pembuatan paspor, dan mengantar ke Bandara dan pengurusan lain sebagai syarat pemberangkatan," ungkapnya.
 
Ia menambahkan, dari hasil pemeriksaan penyidik tersangka ini sudah melakukan aksinya kurang lebih selama 1 tahun, dengan meraup keuntungan dalam satu bulan mencapai Ro20 sampai Rp30 juta.
 
"Dalam satu bulan itu juga tersangka bisa mengirimkan 3 sampai 4 orang," singkatnya.
 
Barang bukti yang diamankan, yaitu berupa satu unit ponsel, enam paspor, tiga visa elektronik, dua lembar print out tiket pesawat, tiga buah surat vaksinasi covid-19, dan dua buku tabungan.
 
Atas perbuatannya, para tersangka akan dikenakan pasal berlapis yaitu Pasal 81 Junto 69 UU RI Nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja Indonesia dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun atau denda sebesar Rp15 miliar dan atau Pasal 4 dan Pasal 10 UU Nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman 3 sampai 15 tahun penjara dan denda sampai dengan Rp100-600 juta.
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif