Ilustrasi kawasan pesisir, Medcom.id - M Rizal
Ilustrasi kawasan pesisir, Medcom.id - M Rizal

Peringatan Dini Gelombang di Sulut Dikira Tsunami

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Mulyadi Pontororing • 28 Desember 2018 17:37
Manado: Sebagian masyarakat pesisir di Sulawesi Utara panik setelah mendapat peringatan dini dari BMKG. Mereka menganggap peringatan dini itu berkaitan dengan ancaman tsunami.

Kepala Bagian Perencanaan BPBD Sulut Edwin Monding mengaku menerbitkan peringatan itu pada Jumat pagi, 28 Desember 2018. Namun kesalahpahaman terjadi.

"Kesalahpahaman itu membuat warga panik karena dikira akan terjadi tsunami," ujar Edwin di Manado.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Edwin menerangkan BMKG tidak menerbitkan peringatan dini tsunami. Peringatan dini tsunami berbeda dari peringatan dini gelombang. Sebab, lanjut Edwin, peringatan dini tsunami disampaikan setelah terjadi gempa dengan magnitude di atas 7 SR. Karakter ancaman tsunami di Sulut berbeda dengan fenomena serupa di Selat Sunda.

"Kalau di Selat Sunda, tsunami terjadi tanpa ada gempa," lanjutnya.

Edwin mengatakan, sesuai Data Informasi Bencana Indonesia, di Sulut memang pernah terjadi tsunami di wilayah ujung utara Sulawesi pada tahun 1800-an. 

"Namun sejak saat itu, belum pernah ada data lagi yang merekam sejarah tsunami di Sulut," terangnya.

BPBD sendiri, lanjut Edwin, telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi terkait ancaman tsunami. Seperti dengan latihan tanggap bencana dan peralatannya. 

"Sulut sendiri hanya memiliki dua alat. Pertama alat pasang surut untuk mengukur tinggi permukaan air di pesisir dan sirene yang akan berbunyi secara otomatis saat ada potensi tsunami," ungkap Edwin.

Namun begitu Edwin mengaku Sulut belum memiliki buoy yang merupakan alat pengukur tinggi permukaan laut yang dipasang di tengah laut. Padahal kata dia, alat itu sangat penting fungsinya.

"Itu sebenarnya sangat penting karena itu di pasang di tengah laut di mana alat itu akan mengukur seberapa tinggi permukaan laut sebagai informasi awal bagi kita untuk bertindak," ujarnya.

Dia menjelaskan, titik antisipasi tsunami berada di dua kota, Manado dan Bitung. Hal ini lantaran konsentrasi jumlah penduduk di kedua wilayah itu lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Selain itu, letak geografisnya berada di wilayah pesisir.

"Jumlah penduduk di wilayah itu kan lebih banyak. Sehingga kita konsentrasikan dulu ke dua wilayah itu. Mulai dari alat peringatan berupa sirena dan alat ukur pasang surut. Jalur-jalur evakuasi juga telah ditentukan jika sewaktu-waktu terjadi tsunami," bebernya.

Dia juga mengatakan, kedepan pihaknya juga akan menambah alat-alat peringatan dini ancaman tsunami seperti sirena di sejumlah wilayah pesisir. Namun saat ini pihaknya masih sementara menyiapkan anggaran.

"Radius sirine itu hanya 10 kilometer sehingga wilayah-wilayah di luar itu tidak akan mendengarnya. Namun kami juga meminta bantuan kepada pihak gereja atau masjid atau pemerintah di wilayah masing-masing untuk menggunakan fasilitas seperti lonceng atau toa untuk memberikan peringatan bahaya bencana," ujarnya.


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi