Kiri-kanan: Ketua Pusat HKI UneJ Nuzulia Kumala Sari, Dekan Fakultas Hukum Unej Muhammad Ali, Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar, Tim Indikasi Geografis Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham Gunawan. Foto: Dok/Istimewa
Kiri-kanan: Ketua Pusat HKI UneJ Nuzulia Kumala Sari, Dekan Fakultas Hukum Unej Muhammad Ali, Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar, Tim Indikasi Geografis Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham Gunawan. Foto: Dok/Istimewa

Kopi dan Tembakau Jember Layak Dapat Sertifikat Indikasi Geografis

Nasional tembakau kopi Sertifikasi
Medcom • 05 Maret 2020 19:35
Jember: Kabupaten Jember memiliki tiga produk keanekaragaman hayati yang layak diajukan untuk memperoleh sertifikat perlindungan Indikasi Geografis. Ketiga produk tersebut ialah Kopi Klungkung, Kopi Sidomulyo, dan Tembakau Na Oogst.
 
"Ketiga produk tersebut memiliki karakteristik yang khas Jember. Jika nanti sudah dapat sertifikat IG (Indikasi Geografis), tentu akan memberikan nilai tambah yang berlipat bagi petaninya, juga bagi daerah Jember," kata Ketua Pusat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Universitas Jember Nuzulia Kumala Sari, dalam Seminar Nasional Pengembangan Ekonomi dan Potensi Daerah Melalui Indikasi Geografis, yang digelar Fakultas Hukum Unej di Gedung Serba Guna FH Unej, Jember, Jawa Timur, Kamis, 5 Maret 2020.
 
Selain Nuzulia, seminar juga menghadirkan pembicara dari Tim Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkum dan HAM Gunawan, serta Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar. Acara seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Hukum Unej Muhammad Ali serta dihadiri oleh 300 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nuzulia mengajak masyarakat Jember bahu-membahu agar pengajuan sertifikat Indikasi Geografis bagi produk berkarakter khas Jember tersebut membuahkan hasil. "Tembakau Na Oogst, misalnya. Sudah diekspor sebagai bahan cerutu, tapi hingga kini belum memperoleh perlindungan sertifikat IG," lanjut dia.
 
Tim IG Kemenkum dan HAM Gunawan menyebutkan sejak diinisiasi pada 2007, hingga kini baru 93 produk yang mendapatkan sertifikasi perlindungan IG. "Sebanyak 33 sertifikasi IG merupakan produk kopi. Padahal, dengan adanya sertifikat IG tersebut maka petani akan terlindungi, selain akan didapat nilai tambah dari produk turunan yang dihasilkan," lanjut Gunawan.
 
Selama ini, keanekaragaman hayati Indonesia banyak dimanfaatkan, termasuk oleh orang asing, namun negeri sendiri tak banyak menerima manfaat. "Beberapa keanekaragaman hayati Indonesia sangat spesifik. Ini bisa berikan indikasi geografis, dipatenkan, memberikan nilai tambah," tandas Gunawan.
 
Sertifikat indikasi geografis bisa diberikan pada sumber daya alam hayati, hasil pertanian, pengolahan, bahkan hasil kerajinan tangan yang memiliki kekhasan dibandingkan produk dari wilayah lain. "Sebagai contoh kopi, kopi yang dibudidayakan di Bondowoso berbeda dengan yang di tempat lain sehingga bisa menerima indikasi geografis," ungkap dia.
 
Pemberian sertifikat indikasi geografis bisa mendorong masyarakat menjaga sekaligus membudidayakan keanekaragaman hayati secara maksimal. Di sisi lain, indikasi geografis juga bisa mencegah eksploitasi oleh asing tanpa memberikan manfaat bagi negeri sendiri.
 
Pada tahun 2010, misalnya, terdapat kasus kopi Gayo yang lisensinya dipegang oleh Belanda. "Setelah diperjuangkan, akhirnya kopi Gayo bisa memperoleh sertifikat indikasi geografis sehingga manfaat lebih besar dari pembudidayaannya berpeluang dirasakan petani," sambung Gunawan.
 
Selain kopi Gayo, sertifikat indikasi geografis di antaranya juga diberikan hasil olahan kekayaan hayati Indonesia berupa bandeng asap Sidoarjo, beras Solok, ubi Cilembu, hingga gula kelapa Kulon Progo.
 
Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar menegaskan dibutuhkan kolaborasi yang lebih aktif lagi di kalangan pemangku kepentingan agar indikasi geogtafis ini bisa dikenal luas oleh masyarakat.
 
"Media sebagai penyampai informasi juga perlu terus-menerus diajak untuk mengembangkan potensi daerah, pengenalan produk khas daerah, dan berbagai upaya memajukan ekonomi masyarakat melalui pemberian sertifikat indikasi geografis ini. Kita tidak bisa bermain sendiri-sendiri," tutur Kohar yang juga Anggota Dewan Redaksi Media Group itu.
 
Ia mengajak jajaran DJKI Kemenkumham untuk lebih proaktif mengenalkan dan menyosialisasikan indikasi geografis dan bagaimana cara serta prosedur untuk mendapatkannya agar publik tahu pasti nilai strategis perlindungan produk IG ini.
 

(MBM)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif