medcom.id, Batang: Bupati Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo stres di awal masa jabatannya sekitar 2012 hingga 2013. Pasalnya, dia tak punya bekal apa pun untuk mengelola sebuah daerah.
"Bekal saya nol," kata Yoyok kepada Metrotvnews.com di Rumah Dinas Bupati Batang, akhir pekan kemarin.
Tapi, mantan anggota Badan Intelijen Negara ini tidak tinggal diam. Ia lalu berguru kepada kepala daerah yang dianggap berhasil, salah satunya Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini.
"Saya ingat beberapa tahun lalu. Harus mempertanggungjawabkan uang triliunan rupiah. Saya mencoba mencari ilmu ke mana-mana. Salah satu yang saya tuju, ke mana tempat mengadu dan belajar (ke Surabaya)," kata Yoyok dalam sebuah forum yang dihadiri Risma di Pendopo Bupati Batang, Selasa (15/3/2016).
Yoyok mengaku tidak salah berguru ke Risma dengan menyambangi langsung Balai Kota Surabaya dalam suatu waktu. Tempat di mana, Risma berkantor sehari-hari.
"Saya dulu enggak kenal Risma. Saat itu, janjian pukul 09.00 WIB. Pukul 07.00 pagi, saya sudah keliling seluruh kantor (di Balai Kota) sampai ke toiletnya. Kantor pemda, tapi kayak hotel bersihnya," ujar Yoyok takjub.
Yoyok menegaskan, dirinya bertekad membangun Batang. Ia tidak ingin Pantura hanya dikenal dengan dangdutnya atau jalur mudik saat musim Lebaran tiba. Tapi sebuah kota, Kabupaten Batang.
"Pantura ini akan tumbuh kota kecil yang sangat mandiri. Tapi bukan karena bupati, wakil bupati atau sekretaris daerahnya saja. Tapi juga kuatnya (atau tumbuhnya) Batang karena masyarakatnya," kata Yoyok.
Dalam empat tahun terakhir kepemimpinannya, Yoyok mencoba melakukan terobosan antimaintsream. Ia mencoba 'menelanjangi' Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun dengan perhelatan Festival Anggaran.
Sekira sembilan bulan ke depan, jabatan Yoyok akan berakhir. Yoyok bertekad mengubur karier politiknya. Tapi, disebut-sebut dia sudah menyiapkan penerus.
medcom.id, Batang: Bupati Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo stres di awal masa jabatannya sekitar 2012 hingga 2013. Pasalnya, dia tak punya bekal apa pun untuk mengelola sebuah daerah.
"Bekal saya nol," kata Yoyok kepada
Metrotvnews.com di Rumah Dinas Bupati Batang, akhir pekan kemarin.
Tapi, mantan anggota Badan Intelijen Negara ini tidak tinggal diam. Ia lalu berguru kepada kepala daerah yang dianggap berhasil, salah satunya Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini.
"Saya ingat beberapa tahun lalu. Harus mempertanggungjawabkan uang triliunan rupiah. Saya mencoba mencari ilmu ke mana-mana. Salah satu yang saya tuju, ke mana tempat mengadu dan belajar (ke Surabaya)," kata Yoyok dalam sebuah forum yang dihadiri Risma di Pendopo Bupati Batang, Selasa (15/3/2016).
Yoyok mengaku tidak salah berguru ke Risma dengan menyambangi langsung Balai Kota Surabaya dalam suatu waktu. Tempat di mana, Risma berkantor sehari-hari.
"Saya dulu enggak kenal Risma. Saat itu, janjian pukul 09.00 WIB. Pukul 07.00 pagi, saya sudah keliling seluruh kantor (di Balai Kota) sampai ke toiletnya. Kantor pemda, tapi kayak hotel bersihnya," ujar Yoyok takjub.
Yoyok menegaskan, dirinya bertekad membangun Batang. Ia tidak ingin Pantura hanya dikenal dengan dangdutnya atau jalur mudik saat musim Lebaran tiba. Tapi sebuah kota, Kabupaten Batang.
"Pantura ini akan tumbuh kota kecil yang sangat mandiri. Tapi bukan karena bupati, wakil bupati atau sekretaris daerahnya saja. Tapi juga kuatnya (atau tumbuhnya) Batang karena masyarakatnya," kata Yoyok.
Dalam empat tahun terakhir kepemimpinannya, Yoyok mencoba melakukan terobosan antimaintsream. Ia mencoba 'menelanjangi' Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun dengan perhelatan Festival Anggaran.
Sekira sembilan bulan ke depan, jabatan Yoyok akan berakhir. Yoyok bertekad mengubur karier politiknya. Tapi, disebut-sebut dia sudah menyiapkan penerus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)