Sejumlah perantau Wamena kembali ke Jawa Timur. (Foto: Medcom.id/Daviq Umar)
Sejumlah perantau Wamena kembali ke Jawa Timur. (Foto: Medcom.id/Daviq Umar)

Cerita Perantau Dibantu Warga Wamena Lari dari Kerusuhan

Nasional aksi massa
Daviq Umar Al Faruq • 10 Oktober 2019 11:31
Malang: Hasan Usri, warga Sampang, Jawa Timur, beruntung bisa mendapatkan bantuan dari warga setempat saat menyelamatkan diri dari kerusuhan di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin, 23 September 2019.
 
Saat kerusuhan meledak, Hasan dibantu warga lokal lari dari tempat tinggalnya di Distrik Hom-Hom. Distrik yang dihuni banyak warga dari Jawa Timur begitu terdampak saat kerusuhan.
 
"Waktu kejadian kerusuhan, saya kabur ke atas plafon. Massa sudah di bawah dan saya melihat api. Terus saya loncat keluar pagar ditolong sebagian orang sana (Wamena)," katanya di Malang, Jawa Timur, Rabu, 9 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Usai melompat dari atap rumah, Hasan mengalami cedera di bagian kaki. Hingga kini ia masih kesulitan untuk berjalan normal alih-alih terseok.
 
"Kaki saya tidak begitu masalah. Teman saya malah sampai patah kakinya karena lompat dari lantai tiga," tutur dia.
 
Menurut Hasan, warga Wamena yang membantu 'pelarian' bukan bagian dari massa aksi. Kerusuhan justru dilakukan oleh warga lain yang berasal dari Tolikara, Nduga, Yalimo dan lain-lain.
 
"Mereka yang membantu saya warga Wamena. Enggak ikut-ikutan, kan ada sebagian orang. Kejadian yang rusuh itu penduduk campur-campur," terangnya.
 
Hasan mengingat kala itu sangat mencekam. Ia tak mampu melupakan seruan-seruan massa aksi yang berteriak tak mengizinkan para perantau tinggal di tanah Papua.
 
"Saya dekat di titik kerusuhan, saya lihat dengan mata sendiri. Massa aksi sambil melempar batu, sebelum bakar-bakar, mereka ngomong 'orang pendatang sudah jangan kasih tinggal'," kenang dia.
 
Kondisi saat itu lah yang membuat Hasan kemudian memutuskan untuk segera pergi dari Papua. Selama kurang lebih dua minggu, ia mengantre untuk bisa pulang ke kampung halamannya.
 
"Kita yang penting keluar dari Wamena dulu. Jurusan mana yang ada ya saya naik itu. Tapi sudah tiga kali gagal terus," imbuh dia.
 
"Saya antre panas-panas di bandara. Satu minggu enggak dapat antrian sampai lupa makan. Kencing saja ditahan karena kita sudah mengantre paling depan, kalau kita keluar antrean kita nanti jadi paling belakang," imbuhnya.
 
Rabu 9 Oktober 2019, Hasan akhirnya tiba di Lanud Abdul Rahman Saleh Malang, Jawa Timur, bersama pengungsi asal Jawa Timur lainnya. Dia tiba diangkut dengan pesawat Hercules milik TNI AU.

Pendapatan di Papua Besar

Hasan mengaku terpincut bekerja di Wamena, Jayawijaya, Papua, karena pendapatan yang cukup besar setiap bulannya. Ia datang ke Wamena atas ajakan teman.
 
"Di sana saya kerja supir angkot, diajak teman yang sudah lama di situ. Karena lihat teman banyak yang sukses di sana. Ya ternyata memang benar," katanya.
 
Namun belum genap empat bulan di Wamena, Hasan terpaksa pulang ke kampung halamannya. Dia tidak menyangka kerusuhan besar terjadi di Wamena.
 
"Demo ini saya kira hanya demo-demo biasa aja. Hanya lempar-lempar batu. Karena yang diperkirakan itu 1 Desember, ternyata malah lebih awal," bebernya.
 
Aksi besar-besaran di Wamena tersebut diakui Hasan tak lepas dari permasalahan yang terjadi di Jawa Timur beberapa waktu lalu. Namun, menurutnya permasalahan tersebut hanya sebuah kesalahpahaman saja.
 
"Itu cari-cari kesalahan saja. Rata-rata pendatang di Papua kan banyak yang sukses, kita kan giat-giat kerja. Seperti saya yang supir angkot, bangun pagi pulang sore. Apalagi yang tukang ojek, juga kayak gitu," ceritanya.
 
Kini Hasan berencana menyambung hidup di kampung halamannya, Sampang. Namun, masih terbersit sedikit keinginannya untuk kembali ke Wamena.
 
"Sebenarnya dari pihak keamanan sudah dibilang aman, tapi lihat kondisi nanti," pungkasnya.
 
Kerusuhan di Wamena, Papua, pecah pada 23 September 2019. Massa melakukan pelemparan batu hingga membakar bangunan rumah dan perkantoran.
 
Akibat peristiwa itu, 33 orang meninggal dan 79 lainnya luka-luka. Sekitar 150 rumah dan toko terbakar. Kantor Bupati Jayawijaya dan sejumlah gedung pemerintah juga hangus. Para pendatang pun kemudian memutuskan untuk eksodus.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif