Banyuwangi: Kapal Motor (KM) Mutiara Timur 1 terbakar di Selat Bali pada Rabu 16 November 2022. Kebakaran kapal yang membawa sebanyak 236 penumpang dan 35 anak buah kapal (ABK) ini diduga akibat kebocoran bahan kimia mobil di dalam kapal. Para penumpang berhasil dievakuasi oleh 3 kapal milik TNI AL dan kapal nelayan.
“Total jumlah yang dievakuasi semuanya berjumlah 254. 210 di KRI R.E. Martadinata, 25 di Kadet 06, 19 di Kadet 07,” lapor Letkol Laut (P) Ansori, Danlanal Banyuwangi dalam tayangan Newsline, Metro TV, Kamis 17 November 2022.
Dikabarkan pada dini hari sebelumnya beberapa penumpang berhasil dievakuasi terlebih dahulu oleh kapal nelayan dan langsung di debarkasi di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Direktur KPLP, Capt. Mugen Sartoto mengatakan bahwa fokus selanjutnya adalah memadamkan api dan mengevakuasi bangkai kapal.
“Saat ini petugas KPLP di kapal KNP Chundamani masih menyisir di lokasi kejadian dan terus memantau kondisi terkait keselamatan pelayaran,” ujar Mugen.
Kronologi Kebakaran
KM Mutiara Timur 1 Berlabuh dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur ke Pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut kesaksian para korban, asap mulai terlihat dari ruang bawah tetapi tidak jelas asalnya dari ruang mana. Kemudian para penumpang dan ABK berteriak-teriak dari geladak kapal kepada kapal yang sedang lewat, dan kapal tersebut melaporkan kepada Satgas Tamu VVIP G20 yang dipimpin oleh Panglima Laut Laksamana Muda TNI Hutabarat.
Satgas Tamu VVIP G20 langsung memerintahkan KRI R.E. Martadinata dan KRI Sultan Hasanuddin untuk segera bergabung untuk melaksanakan evakuasi. Evakuasi berlangsung kurang lebih 1,5 jam hingga pukul 02:30 WITA.
“Kapal yang berlayar dari Banyuwangi kemudian berpapasan dengan KM Mutiara Timur 1 dalam keadaan memberikan tindakan pertolongan kepada awak kapal yang sudah berteriak-teriak di geladak kapal. Kemudian melaporkan kepada Satgas Tamu VVIP G20 dalam hal ini dipimpin langsung oleh Panglima Laut Laksamana Muda TNI Hutabarat sehingga langsung memerintahkan KRI R.E. Martadinata dan KRI Sultan Hasanuddin untuk segera bergabung untuk melaksanakan evakuasi. Kurang lebih sekitar 1,5 jam,” jelas Letkol Laut (P) Ansori.
Laporan terakhir, penumpang yang dievakuasi dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan sudah keluar dari rumah sakit dan dipulangkan ke rumah masing-masing. Kondisi KM Mutiara Timur 1 yang terbakar saat ini api di luar sudah dapat dipadamkan. Namun, masih terlihat titik api di dalam kapal. Selanjutnya bangkai kapal akan dievakuasi.
Operator kapal KM Mutiara timur satu memberikan pilihan kompensasi kepada penumpang yang selamat dari peristiwa terbakarnya KM Mutiara Timur. Yakni pertama bagi penumpang berasal dari Banyuwangi dan sekitarnya dalam kondisi sehat dan selamat diperbolehkan pulang ke rumah. Kedua bagi penumpang dari luar Banyuwangi pihak operator kapal telah menyiapkan tiga tempat penginapan.
(Annisa Ambarwaty)
Banyuwangi: Kapal Motor (KM) Mutiara Timur 1 terbakar di Selat Bali pada Rabu 16 November 2022.
Kebakaran kapal yang membawa sebanyak 236 penumpang dan 35 anak buah kapal (ABK) ini diduga akibat kebocoran bahan kimia mobil di dalam kapal. Para penumpang berhasil dievakuasi oleh 3 kapal milik TNI AL dan kapal nelayan.
“Total jumlah yang dievakuasi semuanya berjumlah 254. 210 di KRI R.E. Martadinata, 25 di Kadet 06, 19 di Kadet 07,” lapor Letkol Laut (P) Ansori, Danlanal Banyuwangi dalam tayangan Newsline, Metro TV, Kamis 17 November 2022.
Dikabarkan pada dini hari sebelumnya beberapa penumpang berhasil dievakuasi terlebih dahulu oleh kapal nelayan dan langsung di debarkasi di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Direktur KPLP, Capt. Mugen Sartoto mengatakan bahwa fokus selanjutnya adalah memadamkan api dan mengevakuasi bangkai kapal.
“Saat ini petugas KPLP di kapal KNP Chundamani masih menyisir di lokasi kejadian dan terus memantau kondisi terkait keselamatan pelayaran,” ujar Mugen.
Kronologi Kebakaran
KM Mutiara Timur 1 Berlabuh dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur ke Pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut kesaksian para korban, asap mulai terlihat dari ruang bawah tetapi tidak jelas asalnya dari ruang mana. Kemudian para penumpang dan ABK berteriak-teriak dari geladak kapal kepada kapal yang sedang lewat, dan kapal tersebut melaporkan kepada Satgas Tamu VVIP G20 yang dipimpin oleh Panglima Laut Laksamana Muda TNI Hutabarat.
Satgas Tamu VVIP G20 langsung memerintahkan KRI R.E. Martadinata dan KRI Sultan Hasanuddin untuk segera bergabung untuk melaksanakan evakuasi. Evakuasi berlangsung kurang lebih 1,5 jam hingga pukul 02:30 WITA.
“Kapal yang berlayar dari Banyuwangi kemudian berpapasan dengan KM Mutiara Timur 1 dalam keadaan memberikan tindakan pertolongan kepada awak kapal yang sudah berteriak-teriak di geladak kapal. Kemudian melaporkan kepada Satgas Tamu VVIP G20 dalam hal ini dipimpin langsung oleh Panglima Laut Laksamana Muda TNI Hutabarat sehingga langsung memerintahkan KRI R.E. Martadinata dan KRI Sultan Hasanuddin untuk segera bergabung untuk melaksanakan evakuasi. Kurang lebih sekitar 1,5 jam,” jelas Letkol Laut (P) Ansori.
Laporan terakhir, penumpang yang dievakuasi dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan sudah keluar dari rumah sakit dan dipulangkan ke rumah masing-masing. Kondisi KM Mutiara Timur 1 yang terbakar saat ini api di luar sudah dapat dipadamkan. Namun, masih terlihat titik api di dalam kapal. Selanjutnya bangkai kapal akan dievakuasi.
Operator kapal KM Mutiara timur satu memberikan pilihan kompensasi kepada penumpang yang selamat dari peristiwa terbakarnya KM Mutiara Timur. Yakni pertama bagi penumpang berasal dari Banyuwangi dan sekitarnya dalam kondisi sehat dan selamat diperbolehkan pulang ke rumah. Kedua bagi penumpang dari luar Banyuwangi pihak operator kapal telah menyiapkan tiga tempat penginapan.
(Annisa Ambarwaty)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WAN)