Jakarta: Sorak sorai penonton terdengar riuh saat satu persatu sapi dikeluarkan dari kandangnya ke arena balapan. ratusan penonton memadati arena pacu jawi yang rutin diselenggarakan. gelaran pacu jawi sendiri merupakan ajang balap sapi yang biasa diadakan masyarakat Tanah Datar, Sumatra Barat.
“Pacu jawi itu dulunya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada yang maha kuasa atau hasil panen yang melimpah. namun kini telah menjadi tradisi yang mampu menghadirkan wisatawan baik lokal maupun asing dan meningkatkan ekonomi warga” ungkap Pakiah salah satu joki pacu jawi.
Pakiah sendiri bukanlah orang baru di dunia pacu jawi. orang tuanya yang selain berprofesi sebagai petani juga merupakan seorang joki pacu jawi pada masa itu. dari situlah Pakiah tertarik pula menjadi joki.
“Dulu orang tua saya sering mengajak ke sawah dan mengajarkan jadi joki pacu jawi. Saya belajar di kampung sendiri kemudian ke kampung lain. Kalau ada lomba saya diajak nonton, belum boleh ikut. pas lomba sudah selesai dan arena sudah sepi saya disuruh latihan jadi joki pacu jawi,” kenang Pakiah.
Menjadi seorang joki pacu jawi bukan hanya membutuhkan keberanian tapi juga bisa mengatur strategi dan tentunya mampu merawat sapi-sapi pacuan dengan baik.setiap pagi sapi-sapi tersebut hari digembalakan di lahan terbuka.
“Biasanya sebelum bertanding kita selalu memberikan sapi doping. doping banyak macamnya ada yang suntik, ada yang pake perangsang tenaga sapi dan lainya. tapi berhubung modal saya kecil jadi cuman pake telor dan rempah-rempah kyak jahe, bawang dan lainya. tujuannya untuk penambah stamina,” Sidi salah satu joki pacuan.
Bagi para joki pacu jawi, tidak ada yang lebih membanggakan selain menang di arena pacuan. Jika menang nama mereka akan dikenal di seantero penggemar pacu jawi. selain itu sapi pemenang tentunya akan memiliki nilai jual selangit.
Kisah tentang para joki pacu jawi bisa disaksikan dalam program dokumenter Melihat Indonesia yang tayang pada Minggu, 4 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB di Metro TV.
Jakarta: Sorak sorai penonton terdengar riuh saat satu persatu sapi dikeluarkan dari kandangnya ke arena balapan. ratusan penonton memadati arena pacu jawi yang rutin diselenggarakan. gelaran pacu jawi sendiri merupakan ajang balap sapi yang biasa diadakan masyarakat Tanah Datar, Sumatra Barat.
“Pacu jawi itu dulunya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada yang maha kuasa atau hasil panen yang melimpah. namun kini telah menjadi tradisi yang mampu menghadirkan wisatawan baik lokal maupun asing dan meningkatkan ekonomi warga” ungkap Pakiah salah satu joki pacu jawi.

Pakiah sendiri bukanlah orang baru di dunia pacu jawi. orang tuanya yang selain berprofesi sebagai petani juga merupakan seorang joki pacu jawi pada masa itu. dari situlah Pakiah tertarik pula menjadi joki.
“Dulu orang tua saya sering mengajak ke sawah dan mengajarkan jadi joki pacu jawi. Saya belajar di kampung sendiri kemudian ke kampung lain. Kalau ada lomba saya diajak nonton, belum boleh ikut. pas lomba sudah selesai dan arena sudah sepi saya disuruh latihan jadi joki pacu jawi,” kenang Pakiah.
Menjadi seorang joki pacu jawi bukan hanya membutuhkan keberanian tapi juga bisa mengatur strategi dan tentunya mampu merawat sapi-sapi pacuan dengan baik.setiap pagi sapi-sapi tersebut hari digembalakan di lahan terbuka.
“Biasanya sebelum bertanding kita selalu memberikan sapi doping. doping banyak macamnya ada yang suntik, ada yang pake perangsang tenaga sapi dan lainya. tapi berhubung modal saya kecil jadi cuman pake telor dan rempah-rempah kyak jahe, bawang dan lainya. tujuannya untuk penambah stamina,” Sidi salah satu joki pacuan.
Bagi para joki pacu jawi, tidak ada yang lebih membanggakan selain menang di arena pacuan. Jika menang nama mereka akan dikenal di seantero penggemar pacu jawi. selain itu sapi pemenang tentunya akan memiliki nilai jual selangit.
Kisah tentang para joki pacu jawi bisa disaksikan dalam program dokumenter Melihat Indonesia yang tayang pada Minggu, 4 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB di Metro TV.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ALB)