Suasana di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. (Foto: MI/Atalya Puspa)
Suasana di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. (Foto: MI/Atalya Puspa)

Puluhan Pengusaha Angkutan di BIJB Gulung Tikar

Nasional Bandara Internasional Jawa Barat
Nurul Hidayah • 31 Oktober 2019 14:55
Cirebon: Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat semakin sepi. Akibatnya sejumlah pengusaha angkutan gulung tikar.
 
Ketua Organda Cirebon, Karsono, mengatakan sekitar 10 pengusaha angkutan ke BIJB Kertajati memilih menutup operasional.
 
"Penumpang yang berangkat maupun tiba di Bandara Kertajati semakin minim. Padahal pascapengalihan penerbangan domestik dari Bandara Husein Bandung ke Kertajati Juli lalu penumpang sempat ramai," ujar karsono, Kamis, 31 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Karsono, sebulan setelah pengalihan penerbangan, para pengusaha angkutan mulai merasakan dampaknya. Ketiadaan calon penumpang pesawat yang berangkat dari BIJB berdampak pada pengguna jasa angkutan yang semakin sepi.
 
"Padahal tidak sedikit modal investasi yang sudah dikeluarkan Mulai dari modal pembelian kendaraan hingga perizinan terkait angkutan ke BIJB Kertajati," kata dia.
 
Karsono menyebut para penyedia jasa angkutan mendesak pemerintah pusat terutama Pemerintah Provinsi Jawa Barat konsisten menjadikan BIJB sebagai akses penerbangan komersial di Jawa Barat.
 
"Kalau sudah dialihkan, ya harus konsisten. Tidak malah sepi seperti sekarang," ungkap Karsono.
 
Sementara itu juru bicara BIJB Kertajati, Aradea Adisudarma, menjelaskan, saat ini hanya ada dua maskapai yang melakukan penerbangan di BIJB Kertajati. "Air Asia dan Lion Air," kata Aradea.
 
Dari dua maskapai tersebut terdapat sembilan penerbangan yang berarti total ada 18 kali pergerakan setiap harinya di BIJB Kertajati dengan tingkat keterisian di masing-masing penerbangan di kisaran 70 persen.
 
Ia menambahkan saat peralihan penerbangan dari Bandara Husein Bandung ke BIJB Kertajati awal Juli 2019, ada 18 penerbangan. Sedangkan pada September 2019 sudah menurun menjadi hanya 11 penerbangan dan saat ini tersisa sembilan penerbangan.
 
"Kami sendiri sudah melakukan upaya maksimal untuk pemenuhan fasilitas bandara,. Penurunan jumlah penumpang itu kewenangan masing-masing maskapai," lanjut dia.
 
Menurut Aradea pihaknya telah menambahkan tenant hingga runway yang sudah mencapai tiga ribu meter. Artinya, sudah bisa mengakomodasi pesawat berbadan lebar. Rencananya, lanjut Aradea, pertengahan November ini akan mulai dilakukan penerbangan umrah regular bersama aerohajj dengan maskapai yang digunakan Garuda Indonesia.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif