Surabaya: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut 27 dari 38 kabupaten/kota di wilayahnya berpotensi mengalami kekeringan. Khofifah menginstruksikan warga dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat siaga memasuki musim kemarau.
"Pekan lalu kita sudah apel Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) di Pasuruan. Namun yang juga kita harus waspadai berikutnya adalah potensi bencana kekeringan," kata Khofifah di Surabaya, Selasa, 13 Juni 2023.
Sebagaimana diketahui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut musim kemarau 2023 di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada Mei hingga September 2023. Puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2023 dan akhir Juli 2023 bagi sebagian wilayah di Jatim.
Menurut Khofifah langkah ini menjadi penting mengingat Inarisk-BNPB menyebutkan bahwa Jatim memiliki tingkat bahaya kekeringan yang cukup tinggi. Potensi kekeringan terjadi di 27 kabupaten/kota terdiri dari 1.617 dusun, 844 desa/kelurahan dan 221 kecamatan.
Estimasi Penduduk terdampak dari kekeringan di Jawa Timur pada 2023 sebanyak 1.6664.433 jiwa/655.277 KK. Sebanyak 844 desa/kelurahan terbagi dalam 500 kering kritis, 253 kering langka dan 91 kering langka terbatas.
Khofifah menambahkan tim gabungan dari BNPB, BPBD, sinergi pemkab dan pemkot, serta komunitas relawan telah disinergikan guna memaksimalkan upaya pencegahan maupun penanggulangan bencana kekeringan.
"Melihat penurunan dari kasus Karhutla, kita optimistis kekeringan di Jatim akan bisa ditanggulangi dengan baik. Tentunya dengan gabungan dari BNBP, BPDB, Pemda, dan para relawan," ungkapnya.
Tak hanya itu, BPBD Jatim juga sejauh ini telah mendropping air bersih ke beberapa desa terdampak di Jatim, melalui anggaran APBD Provinsi Jatim. Pemberian bantuan berupa tandon dan jeriken telah dilakukan di 38 daerah, dengan rincian sebanyak 350 buah Tandon dan 10.000 buah Jeriken.
Pengiriman air bersih saat ini antara lain telah dilakukan di Kabupaten Situbondo pada 24 Mei 2023 lalu. pengiriman air bersih PDAM dilakukan ke lokasi wilayah yang terdampak kekurangan air bersih akibat mesin pompa bor (Sibel) rusak sehingga air tidak dapat mengalir ke rumah warga.
"Kita akan terus memitigasi dan penanganan untuk bencana-bencana di musim kemarau ini, baik antisipasi kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan. Mohon semuanya saling mawas diri dan meningkatkaan kewaspadaan," ujarnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
Surabaya: Gubernur Jawa Timur,
Khofifah Indar Parawansa, menyebut 27 dari 38 kabupaten/kota di wilayahnya berpotensi mengalami kekeringan. Khofifah menginstruksikan warga dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat siaga memasuki
musim kemarau.
"Pekan lalu kita sudah apel Pengendalian
Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) di Pasuruan. Namun yang juga kita harus waspadai berikutnya adalah potensi bencana kekeringan," kata Khofifah di Surabaya, Selasa, 13 Juni 2023.
Sebagaimana diketahui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut musim kemarau 2023 di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada Mei hingga September 2023. Puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2023 dan akhir Juli 2023 bagi sebagian wilayah di Jatim.
Menurut Khofifah langkah ini menjadi penting mengingat Inarisk-BNPB menyebutkan bahwa Jatim memiliki tingkat bahaya kekeringan yang cukup tinggi. Potensi kekeringan terjadi di 27 kabupaten/kota terdiri dari 1.617 dusun, 844 desa/kelurahan dan 221 kecamatan.
Estimasi Penduduk terdampak dari kekeringan di Jawa Timur pada 2023 sebanyak 1.6664.433 jiwa/655.277 KK. Sebanyak 844 desa/kelurahan terbagi dalam 500 kering kritis, 253 kering langka dan 91 kering langka terbatas.
Khofifah menambahkan tim gabungan dari BNPB, BPBD, sinergi pemkab dan pemkot, serta komunitas relawan telah disinergikan guna memaksimalkan upaya pencegahan maupun penanggulangan bencana kekeringan.
"Melihat penurunan dari kasus Karhutla, kita optimistis kekeringan di Jatim akan bisa ditanggulangi dengan baik. Tentunya dengan gabungan dari BNBP, BPDB, Pemda, dan para relawan," ungkapnya.
Tak hanya itu, BPBD Jatim juga sejauh ini telah mendropping air bersih ke beberapa desa terdampak di Jatim, melalui anggaran APBD Provinsi Jatim. Pemberian bantuan berupa tandon dan jeriken telah dilakukan di 38 daerah, dengan rincian sebanyak 350 buah Tandon dan 10.000 buah Jeriken.
Pengiriman air bersih saat ini antara lain telah dilakukan di Kabupaten Situbondo pada 24 Mei 2023 lalu. pengiriman air bersih PDAM dilakukan ke lokasi wilayah yang terdampak kekurangan air bersih akibat mesin pompa bor (Sibel) rusak sehingga air tidak dapat mengalir ke rumah warga.
"Kita akan terus memitigasi dan penanganan untuk bencana-bencana di musim kemarau ini, baik antisipasi kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan. Mohon semuanya saling mawas diri dan meningkatkaan kewaspadaan," ujarnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)