Puluhan pengungsi dari Wamena, Jayawijaya, Papua, dipulangkan ke Jawa Timur, Rabu 9 Oktober 2019. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Puluhan pengungsi dari Wamena, Jayawijaya, Papua, dipulangkan ke Jawa Timur, Rabu 9 Oktober 2019. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Pulihkan Trauma Anak, Perantau Pilih Hengkang dari Wamena

Nasional aksi massa
Daviq Umar Al Faruq • 09 Oktober 2019 19:20
Malang: Mia Pardede, warga Medan, Sumatra Utara memilih mengungsi dari tanah perantauannya di Wamena, Jayawijaya, Papua. Ibu dari tiga anak ini ingin menghilangkan trauma para buah hatinya pascakerusuhan yang terjadi di Wamena, Senin, 23 September 2019 lalu.
 
Selang dua hari pasca kerusuhan pecah di Wamena, Mia bersama ketiga anaknya mengungsi ke Jayapura pada Rabu, 25 September 2019. Mereka berempat bertahan selama kurang lebih dua pekan hingga akhirnya saat ini bisa keluar dari Papua.
 
Hari ini, Rabu 9 Oktober 2019, Mia tiba di Lanud Abdul Rahman Saleh Malang, Jawa Timur, menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Mia menumpang pemulangan warga Jawa Timur meski pemerintah daerah di Sumatra Utara juga mengupayakan pemulangan bagi warganya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dari Medan sebenarnya ada, cuma naik kapal. Nanti baru hari Jumat berangkatnya. Sampai di Medan 10 hari, kasian toh anak-anak," katanya saat tiba di Malang.
 
Kepada Medcom.id, Mia menceritakan bahwa dirinya memilih hengkang bersama ketiga orang anaknya yang masih kecil meski pemerintah telah menetapkan kondisi Wamena aman. Sedangkan suaminya masih bertahan di pulau paling ujung di timur Indonesia tersebut.
 
Keinginannya untuk pergi dari Papua tak lepas dari kerusuhan di Wamena. Saat kerusuhan meletus, Mia menceritakan bahwa massa aksi demonstrasi mendatangi sekolah-sekolah di Wamena. Peristiwa tersebut begitu membekas dalam ingatan ketiga anaknya.
 
"Karena anak-anak kan trauma. Waktu kerusuhan itu yang orang-orang rusuh itu pergi ke sekolah juga untuk serang anak-anak. Makanya kita amankan dulu anak-anak dululah dari trauma," bebernya.
 
"Anak-anak trauma itu dengar tembakan di mana-mana. Mereka juga lihat api yang sudah besar," imbuhnya.
 
Sementara itu, suami Mia masih berada di Wamena karena diminta pemerintah setempat untuk bertahan di sana. "Kondisi Wamena saat ini saya enggak tau. Tapi katanya suami sudah kondusif. Katanya sekarang masih sepi di sana," ujarnya.
 
Mia sekeluarga sudah 15 tahun lamanya menetap di Wamena. Di sana dia dengan sang suami bekerja sebagai pedagang toko kelontong di tengah kota. Meski sempat trauma, Mia berencana bakal kembali ke Wamena.
 
"Lihat kondisinya. Maunya kalau bisa nanti Januari baru pindah lagi ke Wamena, tunggu aman dulu lah," pungkasnya.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif