sidang perdana kasus amblesnya jalan Gubeng.
sidang perdana kasus amblesnya jalan Gubeng.

Enam Orang Didakwa Rusak Jalan Raya Gubeng

Nasional Jalan Gubeng Ambles
Syaikhul Hadi • 07 Oktober 2019 19:36
Surabaya: Sebanyak enam terdakwa kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng, Surabaya Jawa Timur menjalani sidang perdana di ruang cakra Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, Senin, 7 Oktober 2019. Sidang perdana itu dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya R. Anton Widyopriyono.
 

Keenam terdakwa ialah, Budi Susilo, Rendro Widoyoko, dan Aris Priyanto dari PT Nusa Konstruksi Enjinering (NKE). Tiga lainnya, yakni Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian, dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono dari PT Saputra Karya.
 
"Terdakwa melakukan, menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja menghancurkan, atau merusak bangunan untuk lalu lintas umum atau merintangi jalan umum darat atau air, atau menggagalkan usaha pengamanan bangunan atau jalan. Sehingga membuat bahaya bagi keamanan lalu lintas tersebut," ujar JPU Rakhmad Hari Basuki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kasus ini bermula saat PT. Saputra Karya memiliki proyek pengembangan Rumah Sakit Siloam Surabaya yang dikenal dengan Proyek Gubeng Mix Use Development Surabaya. Di sana akan dibangun Gedung bertingkat dengan rencana awal terdiri dari 20 lantai dan 2 lantai untuk basement, yang kemudian diubah menjadi 23 lantai dan 4 lantai untuk basement.
 
PT. Saputra Karya kemudian menunjuk CV Testana Engineering menyelidiki tanah guna menyediakan data pelapisan tanah bawah lokasi proyek Gubeng Mixed Used Development Surabaya. Selanjutnya, CV Testana Engineering menyelidiki pelapisan tanah bawah di lokasi proyek.
 
Namun, pekerjaan tidak dilakukan secara menyeluruh dan lengkap sesuai permintaan. Yaitu, tidak melakukan pengukuran geodesi atau pengukuran tanah, tidak melakukan pengukuran koordinat titik uji, tidak melakukan pengukuran dan pemetaan tanah, tidak melakukan pengikatan koordinat titik titik uji, tidak melakukan pengujian Triaxial Consolidated Undrained, tidak melakukan penyelidikan air tanah dan tidak melakukan penghitungan Debit Air dan Permeabilitas tanah/rembesan pada lokasi proyek.
 
"Padahal jenis pekerjaan tersebut sangat diperlukan karena akan dilakukan pengerjaan galian untuk mendukung konstruksi basement," papar Jaksa Hari.
 
Selanjutnya CV Testana Engineering memberikan rekomendasi kepada PT Saputra Karya, keberadaan muka air tanah yang cukup tinggi pada lokasi proyek perlu mendapat perhatian, terutama akan dilakukan pengerjaan galian untuk mendukung konstruksi basement.
 
Jaksa Hari menambahkan pada 4 Desember 2013, pihak PT Saputra Karya sebagai pemilik proyek menandatangani kontrak dengan PT Indopora Tbk untuk melaksanakan pekerjaan Bore Pile Proyek Gubeng Mixed Used Development Surabaya.
Padahal, PT Saputra Karya belum melaksanakan rekomendasi yang diberikan CV Testana Engineering. Pemkot Surabaya juga belum menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan atas proyek tersebut.
 
Kemudian, pada 10 Agustus 2018, sempat terjadi longsor tanah pada sumur resapan WSP 3 (sisi selatan / rumah kosong), terjadi kebocoran besar pada dinding soldier pile karena kerusakan bentonet, pengeboran dan pemasangan ground anchor, penurunan tanah di luar bangunan soldier pile, penurunan muka air tanah. Kemudian terjadi kebocoran diafragma wall yang berdampak retaknya bangunan disekeliling proyek (rusaknya dinding-dinding bangunan warga yang ada disekitar lokasi proyek).
 
Selanjutnya, pada 18 Desember 2018 pukul 17.00 wib, terjadi kebocoran lagi pada dinding sebelah timur di titik 47 layer 1 dan dilakukan perbaikan oleh pekerja dari PT Freyssinet. Namun, hingga pukul 21.00 wib belum selesai dan saat pekerja sedang memperbaiki dinding, tiba-tiba terdengar suara bunyi “seling bagian dari Grond Anchor terlepas“ yang sangat keras. Suara itu berasal dari sumber suara beberapa titik Ground Anchor secara bergantian.
 
Jaws pengunci baja strand ground anchor terlepas dan mengeluarkan bunyi “tung.. tung” yang intensitasnya semakin sering pada pukul 21.05 wib.
Sekira pukul 21.20 wib, badan jalan Raya Gubeng – Surabaya longsor (putus) dan fasilitas umum pendukungnya berupa lampur penerangan, tiang listrik berikut traffo, tiang telepon roboh dan putus.
 
Keenam terdakwa didakwa melanggar pasal 192 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke (1) KUHP.
 
Menanggapi dakwaan jaksa, kuasa hukum keenam terdakwa, Jansen Sialoho menyatakan tidak mengajukan eksepsi. Ia beralasan, poin pembelaan akan disampaikan pada saat pledoi nanti.
 
"Kami memutuskan untuk tidak mengajukan eksepsi, namun pokok-pokok eksepsi akan kami sampaikan pada saat pleidoi," kata Jansen.
 
Ketua Majelis Hakim, R Anton Widyopriyono pun menerima pengajuan keenam terdakwa, dan akan menggelar sidang berikutnya langsung dengan agenda pemeriksaan saksi, pada Kamis, 10 Oktober 2019.
 
"Kita jadwalkan seminggu dua kali, karena ini terlalu banyak Senin dan Kamis pagi," terang Anton.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif