NEWSTICKER
Hasil kreasi rumah kertas. Foto Bambang Gami/Istimewa
Hasil kreasi rumah kertas. Foto Bambang Gami/Istimewa

Limbah Kertas di Purworejo Bisa Jadi Kerajinan Unik

Nasional kerajinan
Bagus Aryo Wicaksono • 26 Februari 2020 17:07
Purworejo: Kertas bekas bagi sebagian orang tak ubahnya limbah yang tidak bernilai. Tidak jarang tumpukan kertas-kertas bekas berserakan di pinggir jalan dan permukiman.
 
Namun berbeda ceritanya kalau kertas bekas ada di tangan Komunitas Rumah Kertas Indonesia. Komunitas yang beralamatkan di Perum Pagak Indah Blok H3, Banyuurip, Purworejo, Jawa Tengah ini secara konsisten mengolah kertas bekas menjadi beragam kerajinan dan karya seni bernilai jual.
 
Lewat komunitas ini mereka menyulap kertas menjadi kerajinan dengan beragam teknik, origami, kirigami, pop up, quilling, dan lain-lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dipelopori oleh Bambang Setiawan, komunitas yang berdiri sejak 2010 ini menggandeng muda-mudi setempat mengolah kertas menjadi kerajinan. Mulai dari beragam miniatur, hiasan, vas bunga, gantungan kunci, dan masih banyak lagi.
 
Bambang Gami sapaan akrab Bambang Setiawan menuturkan, kertas dipilih menjadi bahan utama karena masih banyak masyarakat yang menyia-nyiakan kertas.
 
"Kertas kita pilih sebagai bahan belajar dan berkreasi tidak lepas dari perilaku masyarakat yang sering membuang begitu saja. Lewat komunitas ini kita ingin menunjukkan kalau kertas bekas bukan sampah, tapi bahan untuk berkarya," katanya.
 
Limbah Kertas di Purworejo Bisa Jadi Kerajinan Unik
 

Bukan sekadar jual beli, tapi komunitas ini juga merangkul banyak pihak untuk belajar mengolah kertas bekas secara gratis. Bahkan komunitas yang semula hanya ada di Purworejo ini telah menyebar luas di Indonesia.
 
"Pelatihan serupa sudah banyak kita lakukan di Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Kebumen, Jakarta, Lampung, Kalimantan, Tasikmalaya, Padang, Palembang," ujarnya.
 
Bambang menuturkan komunitas rumah kertas saat ini lebih berfokus pada pelatihan dan workshop pembuatan APE (Alat Permainan Edukatif). Pelatihan yang dilakukan lebih banyak ditujukan kepada guru-guru PAUD, TK, SD namun juga menyasar kalangan lain seperti ibu-ibu PKK dan Karang Taruna.
 
"Kita lebih banyak gerak dipelatihan, bukan ke produksi dengan harapan yang produksi masyarakat. Ini pernah jalan beberapa kali pada 2016-2018," katanya.
 
Bambang berharap dengan adanya komunitas rumah kertas bisa mengurangi keberadaan sampah kertas. Selain itu juga memicu generasi kreatif di masa yang akan datang.
 
"Harapannya sampah kertas berkurang, dan juga pemanfaatannya tidak hanya berakhir di pedagang loak, penjual sayur, tapi bisa menjadi kerajinan dan APE sehingga minimal menghiasi rumah-rumah maupun sekolah-sekolah," harapnya.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif