Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw saat membuka data kekerasan yang dilakukan oleh KKB sepanjang tahun 2020. Medcom.id/Roylinus Ratumakin.
Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw saat membuka data kekerasan yang dilakukan oleh KKB sepanjang tahun 2020. Medcom.id/Roylinus Ratumakin.

KKB Berulah Sebanyak 17 Kali di Intan Jaya Selama 2020

Nasional senjata api penembakan
Roylinus Ratumakin • 24 September 2020 21:34
Jayapura: Kepolisian Daerah (Polda) Papua mencatat ada sebanyak 17 kasus kekerasan, penembakan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersejata (KKB) di Kabupaten Intan Jaya, Papua.
 
Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw, mengatakan sejak Januari hingga September 2020 telah terjadi banyak kasus yang menyebabkan korban jiwa baik itu korban dari warga sipil, TNI maupun Polri.
 
"Tahun ini ada 17 kasus, di antaranya dimulai pada tanggal 14 dan 26 Januari, tanggal 6 dan 16 Februari, tanggal 17 Maret, tanggal 19, 22, dan 29 Mei, tanggal 8, 15, dan 18 Agustus, 14, 17 (dua kasus), 18, 19 dan 23 September 2020," kata Waterpauw di Mapolda Papua, Kamis, 24 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:
 
Waterpauw merinci pada kejadian 14 Januari, ada kontak tembak di Kampung Titigi dan tidak ada korban jiwa. Pada 26 Januari juga kontak tembak, akibatnya ada korban luka dari warga sipil atas nama Jakson.
 
Kemudian 6 Februari pembakaran kios dan alat berat oleh KKB yang mengakibatkan kios dan kantor desa terbakar, pada 16 Februari kontak juga di Kampung Joparu, Distrik Sugapa (tidak ada korban).
 
Selanjutnya pada 19 Mei kembali terjadi kontak tembak di Bamogu, Distrik Homeo (tidak ada korban), 22 Mei penembakan petugas medis di Distrik Wandai yang mengakibatkan korban Heniko meninggal, dan Alex luka-luka.
 
Selanjutnya pada 29 Mei kembali terjadi penembakan terhadap warga sipil di kampung Magataga mengakibatkan saudara Yunus Salim meninggal. Kemudian pada 8 Agustus ada bunyi tembakan namun tidak direspon oleh pihak TNI maupun Polri yang terjadi di sekitar Kampung Oisiga.
 
"Tanggal 15 Agustus terjadi penembakan terhadap tukang ojek dimana saudara Laode Jainudin mengalami luka tembak, kemudian 18 Agustus terjadi pembakaran alat berat (eksavator), 14 September penembakan terhadap dua tukang ojek (dua korban mengalami luka tembak) di Distrik Sugapa," jelas Waterpauw.
 
Untuk 17 September 2020 ada penganiayaan dari KKB terhadap warga sipil di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa yang mengakibatkan saudara Badawi meninggal. Pada hari yang sama terjadi kontak tembak dengan Satgas di Hitadipa yang mengakibatkan Serka Sahran meninggal dunia, satu pucuk senjata beserta amunisinya dibawa oleh KKB.
 
“Dihari berikutnya yaitu 18 September terjadi penembakan terhadap pesawat yang melakukan evakuasi terhadap Seka Sahran. Kemudian pada 19 September kontak tembak dengan personil Satgas di Hitadipa mengakibatkan Pratu Dwi Akbar meninggal serta pendeta Yeremias Zananbani dilokasi yang berbeda," ungkapnya.
 
Dari serangkaian kasus tersebut, kata Waterpauw dilakukan oleh beberapa kelompok KKB yang sebenarnya bukan berasal dari daerah Intan Jaya.
 
Semisal Sabinus Waker yang memiliki anggota sebanyak 50 orang dengan 17 pucuk senjata. 17 pucuk senjata tersebut terdiri dari hasil rampasan kurang lebih tahun 2015, 2019, dan 2020.
 
"Mereka ini kalau dilihat dari marganya, bukan asli masyarakat Moni (Intan Jaya). Mereka berasal dari suku atau dari kabupaten lain, di antaranya Kabupaten Puncak Jaya, Puncak Ilaga, Tolikara, dan Kabupaten Mimika. Memang dalam penyelidikan kami, mereka menjadikan Distrik Hitadipa sebagai lahan perang terbuka dengan TNI dan Polri," ujar Waterpauw.
 

 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif