Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan pengarahan terkait penanganan kemiskinan ekstrim. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan pengarahan terkait penanganan kemiskinan ekstrim. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq

Khofifah Sebut Kemiskinan Kultural Jadi Masalah Utama Kabupaten Malang

Daviq Umar Al Faruq • 08 April 2022 18:25
Malang: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai  kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural menjadi permasalahan utama di Kabupaten Malang. Khofifah mengatakan kendala-kendala dari kemiskinan kultural lebih sulit untuk ditangani.
 
Khofifah mencontohkan rata-rata orang tua ingin menikahkan anaknya di usia dini karena ingin segera melepas tanggung jawab. Padahal setelah menikah, anaknya masih tetap tinggal di rumah yang sama dengan orang tuanya.
 
"Artinya, hal ini sesungguhnya bukanlah menurunkan angka kemiskinan, akan tetapi justru menurunkan kemiskinan dari orang tua ke anak. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini merupakan suatu bentuk kultur," kata Khofifah di Malang, Jawa Timur, Kamis, 7 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Pemkot Surabaya Targetkan Tekan Angka Masyarakat Berpenghasilan Rendah Hingga 300 Ribu Jiwa
 
Khofifah bercerita ia pernah bertemu dengan seorang ibu pedagang di pasar yang memiliki niat kuat untuk menyekolahkan anaknya ke India. Ia menilai bahwa sosok-sosok seperti ini menjadi penting untuk dijadikan referensi bersama karena terlepas dari kondisi ekonomi yang kurang berkecukupan, ibu ini terus bekerja keras agar cita-cita anaknya tercapai.
 
"Melalui pendekatan psikologis, bagaimana cara merubah mindset masyarakat. Akan tetapi persoalan mindset ini bukanlah persoalan sederhana dan tidak bisa dirubah hanya dalam waktu satu atau dua tahun. Mereka membutuhkan suatu contoh baik untuk ditirukan," jelasnya.
 
Khofifah menegaskan daerah-daerah yang mengalami kemiskinan kultural dan struktural akan tumbuh menjadi unskilled labour (pekerja tak terlatih) karena memang kurang terjangkau oleh pendidikan yang bisa memberikan skill pada mereka. Apabila di daerahnya tumbuh ekonomi baru, maka mereka akan tereliminasi dan terasing sehingga menjadi pekerja kasar.
 
"Maka kita di sini tidak sekedar berbicara mengenai penanganan kemiskinan ekstrim di Kabupaten Malang, tetapi juga bahwa target dua tahun dalam mempersiapkan jalan nasional dan JLS (jalur lintas selatan), berarti persiapan untuk bisa melatih skill tertentu kepada mereka yang akan melewati garis jalan nasional hanya kurang lebih dari satu setengah tahun," ungkapnya.
 
Di sisi lain, Khofifiah mengaku perlu adanya upaya membangun karakter dan mental anak muda di daerah-daerah yang akan terkoneksi dengan jalur-jalur nasional. Yakni bahwa mereka punya masa depan yang luar biasa.
 
"Kita harus tegaskan bahwa merekalah pemilik masa depan. Apabila ada ratusan pantai di Malang selatan, merekalah yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan nilai tambah dari aktivasi pantai-pantai tersebut. Perlu ada forum kolaborasi antara Perguruan Tinggi, Perangkat Daerah, maupun private sector untuk memberikan penguatan kepada mereka,” ujarnya.
 
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif