Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: ANTARA
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: ANTARA

Gunung Ili Lewotolok Alami 167 Kali Gempa Letusan dalam Sepekan

Antara • 17 Mei 2022 17:43
NTT: Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), merekam 167 kali gempa letusan. Gempa letusan terjadi sejak 10 hingga 16 Mei 2022.
 
Kepala Pos Pemantau Gunung Ili Lewotolok Stanis Ara Kian mengatakan selain gempa letusan, terjadi gempa hembusan. Gempa tersebut terekam 381 kali.
 
"Sampai dengan saat kegempaan di Gunung Ile Lewotolok masih didominasi gempa-gempa yang berkaitan dengan pelepasan material vulkanik ke permukaan seperti gempa letusan dan gempa hembusan," kata Ara, Selasa, 17 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stanis mengatakan getaran yang berkaitan dengan pergerakan magma ke permukaan masih terekam seperti tremor harmonik. Getaran tersebut terjadi sebanyak 55 kali dan tremor non-harmonik terjadi sebanyak 642 kali.
 
Sementara itu, gempa vulkanik dalam terekam 15 kali. Ia menuturkan kegempaan gunung yang sempat meletus 29 November 2022, itu meningkat dibanding pekan lalu.
 
Ia mengatakan secara visual gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-1.000 meter di atas puncak.
 
"Letusan teramati berwarna putih hingga kelabu dengan tinggi kolom sekitar 200-500 meter di atas puncak," ujar dia.
 
Baca: Gunung Merapi Alami 77 Kali Gempa Guguran
 
Berdasarkan pengukuran Electronic Distance Measurement (EDM), menunjukkan hasil
pengukuran yang berfluktuasi dalam rentang dua centimeter (cm). Namun pada periode ini cenderung mendatar/stabil pada titik LWT 1 dan pada LWT 2.
 
Ia menjelaskan potensi ancaman bahaya saat ini berupa lontaran batu atau lava pijar ke segala arah di dalam radius tiga kilometer (km) dari puncak atau kawah Gunung Ili Lewotolok. Potensi ancaman bahaya lainnya berupa gas-gas vulkanik beracun di daerah puncak atau kawah.
 
"Hujan abu jika terjadi erupsi besar yang penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin, dan aliran lahar pada sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Ili Lewotolok pada saat musim hujan," ujar Ara.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif