Surabaya: Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya bellum sepenuhnya dipatuhi masyarakat. Sejumlah warung kopi masihi melayani pengunjung makan di tempat dan dijadikan lokasi berkerumun warga.
Pantauan Medcom.id di sejumlah lokasi, pemilik warkop tetap nekat membuka usahanya. Salah satunya di tepi jalan sebelah Rumah Sakit Islam (RSI) di Jalan A Yani Surabaya. Sejumlah orang
mayoritas pengemudi ojek online (ojol) masih nongkrong-nongkrong berkerumun.
Penampakan serupa juga terlihat di warkop di wilayah Surabaya Selatan, tepatnya di sepanjang Jalan Jetis Kulon, Pulo Wonokromo, Ketintang Madya, Ketintang Wiyata, dan warkop di Jalan Jambangan. Puluhan kendaraan roda dua tampak terparkir rapi persis di depan warkop.
Puluhan pengunjung tengah terlihat tengah asik ngobrol, bercengkrama dengan satu sama lain sambil mengisap rokok, dan menikmati secangkir kopi. Selain tidak menggunakan masker, mereka duduk berdampingan tanpa jarak, tidak menghiraukan aturan PSBB seperti social distancing dan pyhsical distancing.
"Sejak PSBB diberlakukan, ini warkop buka terus dan aman-aman saja. Harusnya kalau pemerintah serius, mestinya ditutup," kata Arik Mahardika, 48, warga asal Jetis Kulon, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Sabtu malam, 2 Mei 2020.
Senada juga disampaikan Ponco Ariyono, 53, warga Ketintang, Surabaya, menyebut pemerintah dan aparat kepolisian tidak serius menegakkan aturan PSBB. Sebab, Yono, sapaan akrabnya, mengaku sejumlah warkop di sekitar rumahnya tidak pernah ditutup, meski pernah ada operasi gabungan Tim Covid-19 Pemprov dan Pemkot Surabaya.
"Masjid saja ditutup, masa ini warkop, kafe-kafe masih buka dan ramai. Harusnya pemerintah dan aparat penegak hukum tegas, kalau memang serius ingin memutus mata rantai penyebaran korona di Surabaya," kata Yono.
Bapak tiga anak itu berharap pemerintah tegas, serius menangani kasus covid-19 di Surabaya. Yono mengaku ingin bisa kembali beraktivitas tanpa ada rasa khawatir, dan cemas karena virus korona.
"Tolong pemerintah lebih tegas lagi, jangan hanya mampu menutup masjid tapi menutup mata untuk menutup warkop," ucap Yono.
Surabaya: Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya bellum sepenuhnya dipatuhi masyarakat. Sejumlah warung kopi masihi melayani pengunjung makan di tempat dan dijadikan lokasi berkerumun warga.
Pantauan
Medcom.id di sejumlah lokasi, pemilik warkop tetap nekat membuka usahanya. Salah satunya di tepi jalan sebelah Rumah Sakit Islam (RSI) di Jalan A Yani Surabaya. Sejumlah orang
mayoritas pengemudi ojek online (ojol) masih nongkrong-nongkrong berkerumun.
Penampakan serupa juga terlihat di warkop di wilayah Surabaya Selatan, tepatnya di sepanjang Jalan Jetis Kulon, Pulo Wonokromo, Ketintang Madya, Ketintang Wiyata, dan warkop di Jalan Jambangan. Puluhan kendaraan roda dua tampak terparkir rapi persis di depan warkop.
Puluhan pengunjung tengah terlihat tengah asik ngobrol, bercengkrama dengan satu sama lain sambil mengisap rokok, dan menikmati secangkir kopi. Selain tidak menggunakan masker, mereka duduk berdampingan tanpa jarak, tidak menghiraukan aturan PSBB seperti
social distancing dan pyhsical distancing.
"Sejak PSBB diberlakukan, ini warkop buka terus dan aman-aman saja. Harusnya kalau pemerintah serius, mestinya ditutup," kata Arik Mahardika, 48, warga asal Jetis Kulon, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Sabtu malam, 2 Mei 2020.
Senada juga disampaikan Ponco Ariyono, 53, warga Ketintang, Surabaya, menyebut pemerintah dan aparat kepolisian tidak serius menegakkan aturan PSBB. Sebab, Yono, sapaan akrabnya, mengaku sejumlah warkop di sekitar rumahnya tidak pernah ditutup, meski pernah ada operasi gabungan Tim Covid-19 Pemprov dan Pemkot Surabaya.
"Masjid saja ditutup, masa ini warkop, kafe-kafe masih buka dan ramai. Harusnya pemerintah dan aparat penegak hukum tegas, kalau memang serius ingin memutus mata rantai penyebaran korona di Surabaya," kata Yono.
Bapak tiga anak itu berharap pemerintah tegas, serius menangani kasus covid-19 di Surabaya. Yono mengaku ingin bisa kembali beraktivitas tanpa ada rasa khawatir, dan cemas karena virus korona.
"Tolong pemerintah lebih tegas lagi, jangan hanya mampu menutup masjid tapi menutup mata untuk menutup warkop," ucap Yono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WHS)