medcom.id, Batang: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang ternyata belum sepenuhnya disetujui warga. Nelayan Desa Alas Roban Timur (Desa Sengon) masih menolak keras pembangunan (PLTU) di wilayah Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebab, mereka takut itu dapat mengancam kelangsungan mata pencaharian mereka sehari-hari mencari ikan.
Nelayan Alas Roban Timur Bejo Gelobot, mengatakan tidak akan mendukung proyek pembangunan PLTU yang sudah berjalan sejak 2011.
"Kami sampai kapanpun akan menolak pembangunan PLTU Batang. Karena penghasilan mendapat ikan kami bisa berkurang, nanti kami mau makan apa" Kata Bejo saat ditemui Metrotvnews.com di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Selasa (12/5/2015).
Isu pencemaran lingkungan menjadi alasan ketakutan mereka jika PLTU nantinya beroperasi. Bukan hanya itu, Bejo mengaku takut mengalami nasib seperti nelayan di Jepara. Dia sudah melihat langsung kondisi nelayan di Jepara yang sudah tidak bisa mencari ikan selepas dibangun PLTU.
"Di Jepara saya sudah survey, saya tanyakan ke nelayan juga, sebelum ada PLTU sukses (tangkapan ikan), sekarang sudah ada PLTU di sana nelayan abis-abisan (tak dapat ikan)," ungkapnya.
Penolakan warga Alas Roban Timur ini terlihat begitu kompak. Pantauan Metrotvnews.com, di setiap rumah warga desa Alas Roban Timur terpasang poster menolak PLTU. Bahkan bukan hanya dirumah, tapi di setiap perahu nelayan juga dipasang bendera warna kuning yang berisi penolakan pembangunan PLTU.
"Iya itu sengaja kami lakukan sebagai bentuk protes, kalau sudah sobek kita ganti lagi yang baru," ujar Bejo.
Kritik tajam juga dikeluarkan organisasi pemerhati lingkungan hidup, Green Peace (GP) Arif Fiyanto, menerangkan PLTU bertenaga batu bara ini diprediksi akan mengeluarkan 10,8 juta ton karbon per tahun, atau lebih dari seluruh emisi karbon yang dihasilkan oleh Myanmar pada 2009, serta menghasilkan lebih dari 200 kg merkuri setiap tahunnya.
"Emisi ini akan memperburuk perubahan iklim dengan dampak yang buruk serta polusi lokal yang mengancam kesehatan warga dan lingkungan setempat," terang Arif di Desa Alas Roban Timur.
Belum lagi, kata Arif jika benar-benar beroperasi, para nelayanlah yang akan kena dampak cukup signifikan dari segi pendapatan ikan, dan terancam berhenti melaut.
medcom.id, Batang: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang ternyata belum sepenuhnya disetujui warga. Nelayan Desa Alas Roban Timur (Desa Sengon) masih menolak keras pembangunan (PLTU) di wilayah Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebab, mereka takut itu dapat mengancam kelangsungan mata pencaharian mereka sehari-hari mencari ikan.
Nelayan Alas Roban Timur Bejo Gelobot, mengatakan tidak akan mendukung proyek pembangunan PLTU yang sudah berjalan sejak 2011.
"Kami sampai kapanpun akan menolak pembangunan PLTU Batang. Karena penghasilan mendapat ikan kami bisa berkurang, nanti kami mau makan apa" Kata Bejo saat ditemui
Metrotvnews.com di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Selasa (12/5/2015).
Isu pencemaran lingkungan menjadi alasan ketakutan mereka jika PLTU nantinya beroperasi. Bukan hanya itu, Bejo mengaku takut mengalami nasib seperti nelayan di Jepara. Dia sudah melihat langsung kondisi nelayan di Jepara yang sudah tidak bisa mencari ikan selepas dibangun PLTU.
"Di Jepara saya sudah survey, saya tanyakan ke nelayan juga, sebelum ada PLTU sukses (tangkapan ikan), sekarang sudah ada PLTU di sana nelayan abis-abisan (tak dapat ikan)," ungkapnya.
Penolakan warga Alas Roban Timur ini terlihat begitu kompak. Pantauan
Metrotvnews.com, di setiap rumah warga desa Alas Roban Timur terpasang poster menolak PLTU. Bahkan bukan hanya dirumah, tapi di setiap perahu nelayan juga dipasang bendera warna kuning yang berisi penolakan pembangunan PLTU.
"Iya itu sengaja kami lakukan sebagai bentuk protes, kalau sudah sobek kita ganti lagi yang baru," ujar Bejo.
Kritik tajam juga dikeluarkan organisasi pemerhati lingkungan hidup, Green Peace (GP) Arif Fiyanto, menerangkan PLTU bertenaga batu bara ini diprediksi akan mengeluarkan 10,8 juta ton karbon per tahun, atau lebih dari seluruh emisi karbon yang dihasilkan oleh Myanmar pada 2009, serta menghasilkan lebih dari 200 kg merkuri setiap tahunnya.
"Emisi ini akan memperburuk perubahan iklim dengan dampak yang buruk serta polusi lokal yang mengancam kesehatan warga dan lingkungan setempat," terang Arif di Desa Alas Roban Timur.
Belum lagi, kata Arif jika benar-benar beroperasi, para nelayanlah yang akan kena dampak cukup signifikan dari segi pendapatan ikan, dan terancam berhenti melaut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ICH)