Nelayan mengangkat ikan yang baru ditangkap (Foto:Medcom.id/Surya Perkasa)
Nelayan mengangkat ikan yang baru ditangkap (Foto:Medcom.id/Surya Perkasa)

Warga Natuna Mulai Melek Internet

Nasional Merdeka di Perbatasan BAKTI
Surya Perkasa • 24 September 2018 11:29
Ranai: Tim Medcom.id memanfaatkan dua hari terakhir perjalanan di Kabupaten Natuna dengan berkeliling Pulau Bunguran. Kami penasaran dengan cerita masyarakat di serambi terdepan Indonesia ini soal telekomunikasi.
 
Kami berputar-putar Kota Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Kami melihat sejumlah remaja berseragam putih abu-abu tengah duduk-duduk di depan Network Operation Center (NOC) Palapa Ring Barat.
 
Usut punya usut, mereka memanfaatkan internet gratis yang dipasang BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika). WiFi gratis ini merupakan bagian dari janji hadirnya internet cepat bernama BAKTI Akses Internet untuk wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Program Penyediaan Jasa Akses Internet yang dilaksanakan BAKTI berkapasitas bandwidth minimal dua megabite per detik (Mbps). Palapa Ring Barat telah 100 persen dipasang hingga Natuna.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kami pun menghampiri mereka. "Saya sering ke sini untuk membuat tugas dari sekolah," kata Doni Setiawan, siswa SMA Negeri 2 Bunguran Timur, kepada Medcom.id.
 
Ardiansyah, rekan satu sekolah Doni, mengakui dia juga sering datang ke NOC Palapa Ring Barat di Ranai ini. Selain memiliki kecepatan hingga 20 Mbps, WiFi yang menjadi salah program BAKTI Akses Internet ini dapat diakses secara gratis.
 
Warga Natuna Mulai Melek Internet
(Foto:Medcom.id/Arie Bachdar)
 
"Selain hemat paket data, enggak perlu keluar uang banyak beli pulsa," kata Ardiansyah.
 
Puas berbincang dengan kedua siswa tersebut, tim kami melanjutkan perjalanan menuju pasar di Ranai. Kami ingin membuktikan ucapan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna Raja Darmika yang menyebut pedagang mulai memanfaatkan sosial media untuk berjualan.
 
Setibanya di pasar, kami langsung mendatangi pedagang ikan, komoditas unggulan Natuna. Hasan, salah seorang pedagang yang kami temui, mengaku mulai merasakan manfaat sinyal telepon dan internet yang terus membaik. Dahulu, telekomunikasi di Natuna merupakan sebuah kemewahan.
 
"Kalau dahulu kita mau pakai internet, mau ngebel (telepon) harus naik pohon atau mendaki bukit," katanya. Dia memanfaatkan internet untuk mengecek stok ikan, baik lewat aplikasi pesan singkat maupun media sosial. "Kita tanya stok kepada kawan kita yang ada di Batam atau Pontianak," kata dia.
 
Warga Natuna Mulai Melek Internet
Pedagang di pasar Ranai (Foto:Medcom.id/Arie Bachdar)
 
Namun, Mak Lang, pedagang pasar yang berasal dari Pulau Lagong yang berada di selatan Pulau Bunguran mengeluhkan sinyal di kampung halamannya. "Macam mana mau pakai internet, untuk telepon suami saja putus-putus," kata dia.
 
Kami pun mencoba bertanya kepada Amel, pedagang pakaian yang ada di pasar kota Ranai. Dia mengaku tertolong dengan internet yang semakin lancar. Usahanya pun jadi semakin mudah. "Biasanya untuk tanya stok barang. Kami biasanya (menghubungi) ke Ponti (Pontianak). Kalau partai besar, ke Jakarta," kata dia.
 
Dia pun mengaku sering menggunakan aplikasi e-commerce nasional untuk membeli barang yang sulit ditemukan di Natuna. "Nih, saya pakai ini," kata dia memperlihatkan salah satu aplikasi marketplace asal Indonesia.
 
Puas berkeliling di pasar, kami mencoba mencari nelayan Natuna yang kabarnya sedang memilih tidak melaut karena cuaca sedang tidak bersahabat.
 
Edgar, salah atu nelayan yang kami temui mengakui membutuhkan sinyal internet sebelum melaut. "Kami sering menggunakan WhatsApp untuk tanya soal cuaca," kata dia.
 
Dia juga memanfaatkan sinyal telepon dan internet yang semakin bagus berkabar dengan keluarga. Pria asal Pulau Sedanau ini juga kerap memanfaatkan internet untuk menjual ikan tangkapannya. Tapi, dia mengakui belum seluruh wilayah di kepulauan Natuna memiliki sinyal kuat. Kadang ada pulau yang hanya bisa menelepon. Ada juga daerah yang bisa internet cepat.
 
"Kalau sinyal buruk ya sudah, kami mau apa lagi," kataEdgar. Dia berharap sinyal seluler dan internet semakin merata. Walau di perbatasan, dia ingin merasakan merdeka sinyal seperti yang dinikmati penduduk di wilayah Jawa dan Sumatera.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif