Sistem Zonasi Persulit Peserta Didik
Penerimaan peserta didik baru. (ANT/Heru Salim)
Tangerang: Sistem zonasi yang diterapkan pemerintah dinilai mempersulit anak didik untuk masuk sekolah negeri. Sebab, tidak banyak sekolah negeri yang ada dalam satu zonasi.

Zulhadi, warga Benda Baru, Pamulang, Tangerang Selatan, mengaku kesal lantaran sulitnya mendaftarkan putrinya yang baru lulus SD di Pamulang untuk masuk SMP Negeri.

Dia mengungkapkan, website ppdb.dindikbudtangsel.com sejak hari pertama pendaftaran pada 4 Juli 2018, sulit diakses.


“Masalah zonasi ini enggak adil. Enggak jelas dan menghalangi kesempatan calon siswa berprestasi yang memiliki nilai akademik lebih bagus,” kata Zulhadi, Rabu, 11 Juli 2018.

Persoalan lain yang muncul yakni hilangnya kesempatan sang anak untuk bersekolah di negeri, lantaran tak ada SMP Negeri di dalam zonasi.

Selain itu sekolah yang dituju pun tak berada dalam zonasi, sehingga putrinya tersisih meski memiliki nilai yang sangat memuaskan dan masih berada di satu zona kecamatan sekolah.

“Pamulang itu ada SMP 4 dan SMP 17 yang letaknya di Kelurahan Pamulang Barat. Saya beda kelurahan, tapi terancam tak lolos sekolah negeri meski nilai putri saya bagus. Masalahnya di kelurahan Benda Baru, tak ada satupun SMP Negeri," jelasnya.

Dia mengatakan, pelaksanaan zonasi harus disesuaikan. Selain itu sistem zonasi harus dirancang dengan baik agar bisa diaplikasikan dengan baik di lapangan.

“Ini kebijakan pusat, tapi Pemerintah Daerah harusnya lebih bijak menentukan pelaksanaan teknisnya karena dia yang tahu kondisi wilayah,” katanya.

Mira Mardiana orang tua calon siswa lainya pun mengalami kesulitan serupa. Selain kesulitan mengakses website, dirinya juga dihadapkan persoalan nomor induk kependudukan (NIK) sang anak, yang didaftarkan pada PPDB online SMP 2018.

“Pada hari Jumat sudah bisa, dan saat dicetak ada tulisan merah, yang intinya NIK anak saya tidak sinkron,” ucapnya.

Dia mengungkap, kesalahan terjadi di penamaan anak setelah berhasil menginput data.

“Misalnya nama anak saya Rizki, ini i-nya ditulis y, itu saja. Tapikan kalau nanti anak saya lolos ini jadi masalah, karena identitas tidak sesuai,” kata dia.

Setelah dilaporkan ke petugas, Mira tak lantas tersenyum, pasalnya petugas penerima aduan dengan enteng menjawab data yang masuk valid dan benar. Meski ada kekeliruan penulisan nama, sang anak dipastikan bisa lancar mengikuti seleksi.

“Petugas seperti hanya menenangkan lisan saja, dia bilang enggak masalah, nanti tetap terdata. Tapi namanya tetap salah, harusnya ada perbaikan secara sistem dong,” ucap dia.



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id