Menkes Budi G Sadikin melihat ember yang digunakan sebagai alat implementasi teknologi Wolbachia. Foto: DOkumentasi WMP Yogyakarta
Menkes Budi G Sadikin melihat ember yang digunakan sebagai alat implementasi teknologi Wolbachia. Foto: DOkumentasi WMP Yogyakarta

Menkes Ingin Teknologi Wolbachia Dikembangkan di Luar Yogyakarta

Ahmad Mustaqim • 23 Juli 2022 19:00
Yogyakarta: Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin berharap teknologi wolbachia yang dikembangkan peneliti UGM dikembangkan di daerah lain. Sejauh ini, teknologi untuk membuat nyamuk agar tak bisa menyebarkan virus itu telah dikembangkan di kawasan Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman.
 
"Ini perlu kerja sama banyak pihak agar implementasi teknologi ini bisa dilakukan di luar Daerah Istimewa Yogyakarta," kata Menteri Budi dalam keterangan tertulis, Sabtu, 23 Juli 2022.
 
Menkes mengunjungi laboratorium Entomologi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta pada 22 Juli. Dalam kunjungan itu, Menkes memperoleh informasi terkait aspek teknologi, implementasi, dan dampaknya terhadap penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Cara kerja bakteri wolbachia dalam menghambat transmisi virus dengue yakni dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk berwolbachia agar menulari nyamuk yang memiliki virus. Dari situ kemudian mengurangi atau bahkan menghilangkan virus dengue nyamuk.
 
Baca: Lestari Moerdijat Tuntut Keterampilan Mahasiswa Adaptif dengan Perubahan Zaman

"Kementerian Kesehatan akan mencermati data kota/kabupaten dengan beban dengue yang tinggi di Indonesia. Nantinya butuh keterlibatan aktif dari para pemangku, baik di tingkat Kementerian, Dinas Kesehatan, pemangku wilayah, hingga kerjasama dengan mitra yang berkomitmen dalam mendukung pelaksanaannya, termasuk untuk dukungan pendanaan," kata dia.
 
Project Leader WMP Yogyakarta, Adi Utarini mengatakan teknologi wolbachia memiliki efikasi dalam menurunkan kasus dengue sebesar 77 persen. Selain itu, teknologi tersebut juga menurunkan tingkat rawat inap rumah sakit sebesar 86 persen.
 
"Teknologi ini juga telah mendapat rekomendasi dari VCAG (Vector Control Advisory group) WHO untuk implementasi teknologi yang telah terbukti efikasinya tersebut," kata Utarini.
 
Utarini mengatakan pengembangan teknologi wolbachia di luar DIY akan menjadi langkah baik untuk mengurangi kasus DBD di Indonesia. Selain mempertimbangkan angka kasus dengue yang tinggi, Utarini menyatakan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM juga menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan magang ACTIVATE bagi 8 kota/kabupaten yang tengah berlangsung saat ini sebagai pertimbangan implementasi teknologi ini di wilayah prioritas di Indonesia.  
 
"Kami berharap di masa mendatang teknologi wolbachia bisa diimplementasikan di daerah lainnya di luar Yogyakarta sehingga dapat membantu menurunkan kasus dengue secara signifikan," kata dia.
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif