Perajin tahu di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten berharap pemerintah mensubsidi harga kedelai untuk mengurangi beban biaya produksi. ANTARA/HO-Mansur
Perajin tahu di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten berharap pemerintah mensubsidi harga kedelai untuk mengurangi beban biaya produksi. ANTARA/HO-Mansur

Perajin Tahu di Lebak Tercekik Harga Kedelai

Antara • 17 Mei 2022 07:31
Lebak: Sejumlah perajin tahu di Kabupaten Lebak, Banten, berharap pemerintah mensubsidi harga kedelai untuk mengurangi beban biaya produksi.
 
"Kita hingga kini hanya bisa bertahan hidup saja sejak tiga bulan harga kedelai melonjak dari Rp300 ribu menjadi Rp620 ribu per 50 kg," kata Madsoleh, 55, seorang perajin tahu di Kampung Muara Kebon Kelapa, Rangkasbitung Kabupaten, Lebak, Senin, 16 Mei 2022.
 
Baca: Dalam Tiga Tahun, Indonesia Bisa Swasembada Kedelai

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan perajin tahu di Rangkasbitung Kabupaten Lebak beberapa bulan lalu sangat terpukul dengan kenaikan harga kedelai di atas 100 persen. Bahkan di antaranya ada perajin tahu yang sudah tidak produksi atau gulung tikar.
 
Karena itu pihaknya berharap pemerintah dapat menyalurkan subsidi kedelai impor, sehingga dapat mengurangi beban biaya produksi. Apalagi perajin tahu itu membantu program pemerintah dalam penyerapan lapangan pekerjaan.
 
"Kami minta kedelai disubsidi dan kembali harga normal Rp300 rubu, " jelas Madsoleh yang merintis usaha pabrik tahu setelah lulus STM Muhammadiyah tahun 1985.
 
Menurut dia, dirinya kini menyerap tenaga kerja sebanyak 10 orang terdiri dari tiga orang bekerja sebagai tenaga produksi dan tujuh orang lainnya penjual tahu goreng keliling.
 
Dari 10 tenaga kerja itu tentu bisa menghidupi keluarga mereka hingga puluhan jiwa. Sedangkan di sini pabrik tahu tercatat sebanyak 17 perajin, sehingga dapat menghidupi ratusan jiwa keluarga mereka.
 
Selama ini, kata dia, dirinya memproduksi tahu sebanyak 100 kilogram/hari dengan harga Rp1,2 juta. Dari 100 kilogram kedelai dapat menghasilkan produksi sebanyak 30 cetakan tahu dan bisa meraup keuntungan bersih Rp250 ribu/hari.
 
"Kami meraup keuntungan bersih itu juga terkadang harus nombok membeli bahan bakar kayu," jelasnya.
 
Begitu juga perajin lainnya, Sudrajat, 55, mengaku kini usaha produksi tahu hanya bisa bertahan hidup usai harga kedelai melonjak.
 
Saat ini dirinya mensiasati produksi tahu dengan memperkecil ukuran agar bisa bertahan usaha. Harga kedelai kini sudah terjadi kenaikan hingga 100 persen dari Rp300 ribu/ 50 kg.
 
Dengan demikian pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan subsidi kedelai guna menekan biaya produksi. "Sejak kenaikan kedelai itu biaya produksi cukup tinggi dan berdampak terhadap keuntungan," ungkap Sudrajat.
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif