ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Sejumlah Sekolah di Yogyakarta Mulai Belajar Tatap Muka

Nasional Virus Korona sekolah Pembelajaran Daring
Ahmad Mustaqim • 15 Oktober 2020 08:10
Yogyakarta: Sebagian sekolah di Kota Yogyakarta sudah melakukan kegiatan belajar tatap muka (KBM). Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan sekolah membuka KBM dengan menerapkan protokol kesehatan.
 
"Saat ini memang ada beberapa sekolah sudah mulai melakukan tatap mula sangat terbatas. Karena sebenarnya meskipun siswa tidak ketemu di sekolah, selama ini mereka sudah ketemu di rumah atau tempat-tempat pertemuan bersama," kata Heroe saat dihubungi, Kamis, 15 Oktober 2020.
 
Baca: Teknis Pemungutan dan Penghitungan Suara Pilkada Sesuai Protokol Covid-19

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Heroe menyatakan berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemerintah DIY, penambahan kasus dalam sepakan terakhir cenderung fluktuatif. Rincian data itu yakni bertambah 3 kasus (8 Oktober); 11 kasus (9 Oktober); 6 kasus (10 Oktober); 1 kasus (11 Oktober); 3 kasus (12 Oktober); 11 kasus (13 Oktober); dan 4 kasus (14 Oktober).
 
"Memang kondisi covid-19 di Kota Yogyakarta kembali melandai. Tetapi di sekitar Kota Yogya kan masih fluktuatif naik. Jadi kondisi demikian harus menjadi pertimbangan untuk membuka kelas tatap muka," jelasnya.
 
Menurut Heroe banyak siswa yang berasal dari wilayah sekitar Kota Yogyakarta, seperti Bantul, dan Sleman. Sejumlah wilayah itu terdapat penambahan kasus yang cenderung tinggi.
 
Selain itu sekolah tatap muka bisa dilakukan dengan adanya persetujuan wali murid. Ia mengatakan belum semua orang tua sepakat apabila saat ini dilakukan sekolah tatap muka. "Jadi, sampai saat ini kita masih melakukan pembelajaran dari rumah," ungkapnya.
 
Dari ratusan sekolah di Kota Yogyakarta, rinciannya yakni 175 SD dengan jumlah 43.861 siswa dan 65 SMP yang jumlah siswanya 20.268 anak. Ia menambahkan kuota data belajar online bantuan pemerintah diberikan ke siswa. Menurut dia, 95 persen bantuan itu telah diterimakan dan dipakai untuk pembelajaran daring.
 
"Sementara untuk mata pelajaran tertentu, seperti baca tulis dan hitung, setiap sekolah membuka konsultasi bagi siswa yang kesulitan masalah peralatan daring atau kesulitan akses pembelajarannya. Tetapi dibatasi maksimal setiap pertemuan hanya 10 siswa dengan prokes (protokol kesehatan) ketat," ujarnya.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif