Seorang tukang becak beristirahat di tepi jalan setelah seharian belum mendapat penumpang. (Inibaru.id/ Bayu N)
Seorang tukang becak beristirahat di tepi jalan setelah seharian belum mendapat penumpang. (Inibaru.id/ Bayu N)

Hidup Segan Mati Tak Mau, Nasib Si Pengayuh Roda Tiga

Inibaru • 10 November 2021 16:11
Semarang: Teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat modern. Pada saat bersamaan, ia juga menggerus banyak tatanan. Di dunia transportasi, disrupsi teknologi justru menjadi mimpi buruk bagi sejumlah moda angkutan tradisional, salah satunya becak.
 
Para tukang becak di Kota Semarang contohnya.  Alih-alih mengantar penumpang, tukang becak kini terlihat lebih sering rehat atau ngetem di pengkolan. Hari-hari mereka dihabiskan untuk menunggu berharap akan ada 1-2 penumpang yang meminta jasanya.
 
Di antara para tukang becak malang itu, Ayub adalah salah satunya. Sore itu, lelaki kelahiran 1955 tersebut memilih terlarut dalam lagu dangdut kesukaannya sembari duduk di kursi penumpang becaknya sendiri. Ia seolah lupa sudah seharian belum dapat penumpang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seharian, Ayub memang sama sekali belum mendapat penumpang, padahal sebentar lagi jam  menunjukkan waktunya dia pulang. Dia mengatakan, belakangan ini sangat sulit mendapatkan penumpang, yang berarti tidak ada uang untuk dia bawa pulang.
 
“Bisa bawa pulang Rp 5.000 sampai Rp 10 ribu saja sudah bersyukur,” keluh lelaki yang sudah menjadi tukang becak selama lebih dari 40 tahun tersebut.
 
Dalam beberapa tahun terahir, Ayub merasa jumlah penumpang becak telah jauh berkurang. Dari tahun ke tahun, pelanggannya pun terus menyusut. Tak sedikit teman sesama tukang becak telah beralih profesi.
 
Baca: Jabar Upayakan Gelar Pahlawan Nasional untuk Mochtar Kusumaatmadja Terealisasi
 
Kehadiran transportasi daring seperti ojol berpengaruh besar terhadap sepinya peminat becak. 
Ayub tak menampik moda darat yang juga bisa menjangkau hingga sudut-sudut kota laiknya becak itu memang jauh lebih diminati masyarakat modern.
 
“Ya gimana lagi, sekarang kalau mau ke mana-mana tinggal buka ponsel, pesan ojek, nanti dijemput," ujar Ayub, terdengar sinis. "Orang pasti lebih memilih yang simpel, kan?”
 
Kendati terlihat kurang bisa menerima, ujung-ujungnya Ayub memilih pasrah dan berserah pada Tuhan. Diiringi tawa keras, dia mengatakan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Jadi, dia tidak berpasrah dengan keadaan.
 
Namun, tidak semua tukang becak selegawa Ayub. Banyak rekan sejawat Ayub yang hingga kini belum bisa berdamai dengan persaingan antara becak versus ojek daring ini. Sebagian dari mereka masih menganggap para driver ojek daring telah merenggut rezeki mereka.
 
Kecemburuan ini tentu saja beralasan. Tukang becak yang masih berusia muda mungkin bisa saja banting setir, entah jadi buruh atau mendaftar sebagai driver ojek daring. Namun, bagi yang sudah berusia di atas 40 tahun seperti Ayub, tidak banyak lagi pilihan mereka mengais rupiah. 
 
Rahmat, misalnya. Lelaki yang sudah menjadi tukang becak sejak 1990-an ini mengaku tidak tahu lagi harus melakukan apa andai harus menyerah atau pensiun dari menarik becak. Terlebih, dia sudah terlanjur menghabiskan tabungannya untuk membeli dan memberi motor pada becaknya.
 
“Sudah tua, bisa ngapain lagi? Mau jual becak juga siapa yang mau beli, keadaan sepi begini?” tanyanya, retoris. Mendung menggelayut di matanya.
 
Rahmat mengakui, dia merasa tersaingi. Namun, dia tidak mau membabi buta membenci para driver ojek daring tersebut. Menurutnya, tukang becak dan driver ojek sama-sama mencari uang, berjuang untuk keluarga, dan tengah bergelut dengan nasib. 
 
“Ya, kadang cemburu kalau lihat ada ojek online lewat bawa penumpang,” keluh Rahmat, lalu tersenyum kecut. "Cuma cemburu, nggak lebih."

 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif