BTS penyedia jasa telekomunikasi XL Axiata yang roboh dan menimpa gedung sekolah SDN 240 Ba'do-ba'do, di Desa Baji Mangai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Selasa 13 Agustus 2019. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin
BTS penyedia jasa telekomunikasi XL Axiata yang roboh dan menimpa gedung sekolah SDN 240 Ba'do-ba'do, di Desa Baji Mangai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, Selasa 13 Agustus 2019. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin

Menara XL yang Timpa Siswa SD Dibangun Tanpa Izin

Nasional roboh
Muhammad Syawaluddin • 14 Agustus 2019 18:52
Makassar: Menara operator telekomunikasi XL di Dusun Ba'do-ba'do, Desa Baji Mangai, Mandai, Maros, Sulawesi Selatan yang roboh dan menimpa enam siswa SDN 240 tidak memiliki izin dari pemerintah setempat.
 
"Kami periksa dokumen di desa mulai 2016 hingga 2019 tidak ada izin (terkait pembangunan tower)," kata Kepala Desa Baji Mangai, Abdul Latief di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Latief menjelaskan menara tersebut berdiri sejak 2016 lalu, namun tidak mempunyai dokumen pembangunan tower. Menurut Latief yang ada hanya penambahan daya yang disetujui oleh beberapa pihak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semua bentuk izin dari AP dan Auri ada izinnya untuk penambahan daya sehingga kepala desa pada saat itu ikut menandatangani izin penambahan daya itu," jelas Latief.
 
Latief yang baru menjabat pada awal 2019 juga menyebut yang menjadi dasar dibangunnya tower di tengah pemukiman warga dan sekolah tersebut hanya beberapa tanda tangan masyarakat sekitar. Warga diminta menandatangani untuk pembangunan menara.
 
"Dari informasi yang saya dapat dari pejabat (kepala desa) sebelumnya, ada beberapa warga yang dimintai tanda tangan untuk menyetujui pembangunan itu, dan warga menandatangani," jelas Latief.
 
Namun menurut Latief ada juga beberapa warga yang menolak pendirian menara XL Axiata itu. Tapi yang pasti pihak desa tidak pernah mengeluarkan izin untuk itu karena posisi tower tersebut berada tepat di samping sekolah dan pemukiman masyarakat.
 
"Beberapa kali memang minta izin dan ditolak oleh pihak desa karena mungkin begitu (berada di samping sekolah)," pungkas Latief.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif