medcom.id, Bali: Masyarakat siap mengarak 7.079 ogoh-ogoh serentak di Bali, sehari-hari sebelum Hari Raya Nyepi. Ribuan polisi dan Pecalang akan mengamankan kegiatan ini.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali AKBP Hengky Widjaja menjelaskan ogoh-ogoh paling banyak tersebar di wilayah hukum Polres Buleleng sebanyak 1.380, Gianyar (1.355), dan Denpasar (1.121).
Polda Bali dan satuan wilayah di masing-masing polres mengerahkan 5.626 personel yang salah satunya ditugaskan untuk pengamanan arak-arakan ogoh-ogoh dibantu sekitar 22 ribu pecalang atau petugas keamanan adat khas Pulau Bali.
Arak-arakan ogoh-ogoh di sejumlah simpang sentral atau titik tertentu di suatu wilayah, misalnya di Denpasar, di antaranya di kawasan Catur Muka Lapangan Puputan Badung dan perempatan Tohpati pada sore hari, usai ritual penyucian alam semesta atau Tawur Agung.
Hengky mengimbau kepada masyarakat untuk mengantisipasi dan mencari jalur alternatif, menghindari kepadatan arus lalu lintas.
Ogoh-ogoh menyimbolkan sifat Bhuta Kala yang memiliki sifat negatif yang dibuat dengan kreativitas seni. Ogoh-ogoh diarak sehari menjelang Hari Raya Nyepi untuk mengingatkan Umat Hindu dalam menyambut tahun baru Saka, mengubah sifat negatif menjadi sifat positif dan penuh kebajikan.
Pada saat Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Berata Penyepian atau empat pantangan, yakni amati karya atau tidak bekerja, amati lelungaan atau tidak bepergian, amati lelanguan atau tidak bersenang-senang dan amati geni atau tidak menyalakan api termasuk listrik dan cahaya.
Saat Nyepi, hanya ada beberapa instansi yang beroperasi terbatas dengan menyiagakan petugas, di antaranya rumah sakit, kantor polisi dan dinas kebakaran dengan tidak ada penerangan lampu di luar gedung. (Antara)
medcom.id, Bali: Masyarakat siap mengarak 7.079 ogoh-ogoh serentak di Bali, sehari-hari sebelum Hari Raya Nyepi. Ribuan polisi dan Pecalang akan mengamankan kegiatan ini.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali AKBP Hengky Widjaja menjelaskan ogoh-ogoh paling banyak tersebar di wilayah hukum Polres Buleleng sebanyak 1.380, Gianyar (1.355), dan Denpasar (1.121).
Polda Bali dan satuan wilayah di masing-masing polres mengerahkan 5.626 personel yang salah satunya ditugaskan untuk pengamanan arak-arakan ogoh-ogoh dibantu sekitar 22 ribu pecalang atau petugas keamanan adat khas Pulau Bali.
Arak-arakan ogoh-ogoh di sejumlah simpang sentral atau titik tertentu di suatu wilayah, misalnya di Denpasar, di antaranya di kawasan Catur Muka Lapangan Puputan Badung dan perempatan Tohpati pada sore hari, usai ritual penyucian alam semesta atau Tawur Agung.
Hengky mengimbau kepada masyarakat untuk mengantisipasi dan mencari jalur alternatif, menghindari kepadatan arus lalu lintas.
Ogoh-ogoh menyimbolkan sifat Bhuta Kala yang memiliki sifat negatif yang dibuat dengan kreativitas seni. Ogoh-ogoh diarak sehari menjelang Hari Raya Nyepi untuk mengingatkan Umat Hindu dalam menyambut tahun baru Saka, mengubah sifat negatif menjadi sifat positif dan penuh kebajikan.
Pada saat Nyepi, umat Hindu menjalankan Catur Berata Penyepian atau empat pantangan, yakni amati karya atau tidak bekerja, amati lelungaan atau tidak bepergian, amati lelanguan atau tidak bersenang-senang dan amati geni atau tidak menyalakan api termasuk listrik dan cahaya.
Saat Nyepi, hanya ada beberapa instansi yang beroperasi terbatas dengan menyiagakan petugas, di antaranya rumah sakit, kantor polisi dan dinas kebakaran dengan tidak ada penerangan lampu di luar gedung. (
Antara)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)