Merdeka dalam Kesehatan di Perbatasan
Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, secara intensif memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di pelosok dan sulit dijangkau kendaraan. Foto: Antara/Yudhi Mahatma
TANPA diming-imingi gaji tinggi, sejumlah anak muda betah menjadi tenaga kesehatan di daerah perbatasan. Fasilitas serba terbatas tak membuat mereka patah arang dan berharap bisa pulang cepat. 

Setidaknya semangat itu yang dirasakan Yuyun Ariska, petugas kesehatan yang rela mengabdi di Puskesmas Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Salah satu puskesmas yang berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Butuh tiga jam perjalanan darat dan sekali penyeberangan kapal feri untuk bisa menjangkau Puskesmas Paloh dari pusat kota Sambas. Belum lagi akses jalan yang rusak. Toh, Yuyun tak keberatan.


"Semangat saya tinggi karena masyarakat sangat menghargai kami di sini," kata Yuyun kepada Medcom.ID, akhir Mei 2018 lalu.

Bersama empat kawannya, mereka diberi tanggung jawab selama dua tahun untuk menjaga kesehatan masyarakat sekitar. Yuyun tak pernah membayangkan bakal mengabdi di perbatasan.

Tak hanya persoalan kesehatan, Yuyun juga dihadapkan pada persoalan sosial. Seperti, memecahkan kendala komunikasi. Bahasa melayu yang digunakan masyarakat di sana membuat dia harus beradaptasi karena dia berasal dari Sulawesi Selatan.

Namun, semua kesulitan itu seperti tertiup angin dengan antusiasme masyarakat. Mereka percaya Yuyun dan kolega bisa menghadirkan kesehatan yang lebih baik.

"Masyarakat antusias sekali kalau kita langsung berkunjung ke rumah. Antusiasme mereka akan kesehatan sangat tinggi," kata Yuyun.

Nusantara Sehat

Yuyun dan kelima kawannya adalah bagian dari ribuan orang yang direkrut Kementerian Kesehatan untuk menyukseskan program Nusantara Sehat. 

Nusantara Sehat diciptakan pemerintahan Joko Widodo guna memperkuat pelayanan kesehatan primer di daerah 3T. Targetnya, menurunkan angka kematian ibu dan bayi, mengerem angka gizi buruk, dan meningkatkan angka harapan hidup.

Program itu mulai diperkenalkan pada 2015 untuk mewujudkan Nawacita ketiga, yakni Membangun Indonesia dari Pinggiran. Sebanyak 140 tenaga kesehatan lolos seleksi gelombang pertama program ini. Mereka menyingkirkan puluhan ribu pendaftar. 

Menteri Kesehatan NIla Juwita Farid Moeloek mengatakan riuhnya pendaftar program ini juga dipicu karena adanya kewajiban kerja bagi dokter spesialis.

"Ini sebagai upaya kami untuk memenuhi tenaga kesehatan di daerah," katanya.

Mendandani puskesmas

Kementerian Kesehatan mengawinkan program Nusantara Sehat dengan pembangunan masif fasilitas pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di daerah 3T. Sebanyak 124 puskesmas berfasilitas lengkap dibangun di halaman depan Indonesia sejak 2015.

''Daerah perbatasan yang merupakan bagian terdepan negara seharusnya menjadi etalase negara yang menampilkan wajah atau citra Indonesia yang positif, termasuk dalam bidang kesehatan,'' kata Nila saat meresmikan Puskesmas Entikong dan Puskesmas Balai Karangan, di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, 17 April 2018.

Dengan tenaga kesehatan yang mumpuni, ia berharap puskesmas di perbatasan ini bisa dijalankan secara optimal. Dan masyarakat di perbatasan juga bisa mendapatkan fasilitas kesehatan semewah masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Merujuk Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2017, jumlah puskesmas di Indonesia pada 2017 baru mencapai 9.825 unit. Pertumbuhannya sangat lambat. 

Dalam empat tahun, jumlah puskesmas hanya bertambah 177 unit. Bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 160 juta jiwa.

Rasio puskesmas per kecamatan pun tercatat hanya 1,36. Rasio terendah terdapat di Papua dengan 0,70, kemudian Papua Barat (0,71), dan Kalimantan Utara (0,92). Artinya, di ketiga provinsi itu tak semua kecamatan memiliki fasilitas puskesmas. Bandingkan dengan rasio di DKI Jakarta yang mencapai 7,73.

Jumlah sumber daya manusia kesehatan di puskesmas juga masih minim. Tercatat hanya ada 406.012 orang SDM kesehatan yang bertugas di puskesmas. Sebagian besar adalah perawat dengan jumlah 118.249 orang. Dokter umum hanya ada 17.954 orang dan dokter gigi berjumlah 7.127 orang.

Lebih miris lagi mengetahui SDM kesehatan di perbatasan, yakni 154.792 orang. Mereka tersebar di 143 daerah yang dikategorikan 3T. Dari jumlah itu, dokter spesialisnya hanya 2.546 orang dan dokter umum sebanyak 5.185 orang.

Janji Jokowi

Puskesmas menjadi garda terdepan fasilitas kesehatan di perbatasan. Apalagi pemerintah amat genjar menggelontorkan bantuan dalam naungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada 2018 ini, pemerintah bahkan menargetkan 92,4 juta jiwa akan menerima JKN. 

Di penghujung pemerintahannya, Presiden Jokowi juga berjanji akan mengalokasikan Rp122 triliun untuk anggaran kesehatan. "Naik dua kali lipat dari anggaran kesehatan pada 2014 sebesar Rp59,7 triliun," kata Jokowi dalam pidato RAPBN di Gedung DPR, Kamis, 16 Agustus 2018.

Ia mengklaim program kesehatan yang dilakukan pemerintah selama ini telah memberikan hasil nyata. Yakni, meningkatkan pemerataan dan mutu kesehatan di daerah. Termasuk ketersediaan dan penyebaran obat, SDM kesehatan, dan peningkatan angka harapan hidup.

Tetap saja janji-janji pemerintah ini harus teruji di lapangan. Ambil amsal di Puskesmas Paloh yang sempat dibahas di awal tulisan. Separuh warga Paloh masih lebih memilih berobat ke Kuching, Malaysia. 

Alasannya sederhana, perlengkapan rumah sakit di Kuching lebih lengkap. Jarak antara perbatasan menuju Kuching pun cukup dekat, hanya 15 menit berkendara.

Dokter Puskesmas Paloh Meilani Ayu Lestari meminta pemerintah getol mengadakan pelatihan untuk petugas kesehatan selain fokus melengkapi fasilitas. Dengan harapan, para petugas punya banyak trik untuk meyakinkan masyarakat bahwa puskesmas juga mumpuni menyembuhkan mereka.

"Jadi bisa menjadi daya tarik warga di sini untuk berobat. Di (Puskesmas) Paloh saja, jangan ke Malaysia," kata dokter yang sudah tiga tahun mengabdi di Puskesmas Paloh. 

Dari dokter Meilani pemerintah diingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah untuk membangun fasilitas kesehatan di perbatasan.





(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id