Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan akan menindaklanjuti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait Lion Air JT-610 yang mengalami kecelakaan di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan akan menindaklanjuti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait Lion Air JT-610 yang mengalami kecelakaan di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Dirjenhub Tindaklanjuti Investigasi Lion Air JT-610

Nasional lion air
Hendrik Simorangkir • 01 November 2019 13:44
Tangerang: Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan akan menindaklanjuti hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait Lion Air JT-610 yang mengalami kecelakaan di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pihaknya akan melakukan beberapa langkah tindak lanjut yang bersifat perbaikan ke dalam dan juga terhadap obyek pengawasan yakni Lion Air.
 
Polana B. Pramesti, Dirjen Perhubungan Udara, mengatakan dari hasil investigasi KNKT, pihaknya akan melakukan beberapa langkah tindak lanjut yang bersifat perbaikan ke dalam dan juga terhadap obyek pengawasan yakni Lion Air.
 
"Yang pertama, perbaiki manual dari kita sendiri yang sudah ada, agar antara manual satu dengan yang lain tidak bertentangan," ujar Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti di Gedung DKKPU Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 1 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yang kedua, Polana menambahkan pihaknya akan mewajibkan kepada operator penerbangan untuk melaksanakan pelatihan atau training kepada pilot yang akan mengoperasikan Boeing 737 Max 8.
 
"Saat ini kita tengah mengkaji dan menunggu sertifikasi dari otoritas penerbangan lain, seperti EASA, Brazil, dan Kanada, nantinya kami akan melihat hasil tersebut menunggu, kami juga belum dapat informasi kapan sertifikasi tersebut dikeluarkan, jika memang sudah dikeluarkan dan dinyatakan laik terbang maka pilot yang akan menerbangkan Max 8 akan masuk simulator," ungkapnya.
 
Selanjutnya, ia menjelaskan pihaknya juga akan meminta seluruh operator penerbangan di Indonesia untuk mengimplementasikan Safety Management System (SMS). Hal tersebut dilakukan dengan melakukan training SMS dengan cakupan dan jangka waktu sesuai tingkatan masing-masing personel di operator tersebut.
 
"Ini juga termasuk dengan memastikan bahwa hazard report yang disampaikan personel benar-benar dapat diakses langsung oleh pejabat yang bertanggungjawab," jelasnya.
 
Rekomendasi tersebut pun akan dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan ke depan yakni hingga Januari 2020 dengan pertimbangan waktu yang diperlukan bagi Lion Air.
 
"Dengan pertimbangan waktu yang diperlukan bagi Lion Air untuk menyiapkan atau memperbaiki sistem yang ada terkait dengan pembaharuan dan sinkronisasi manual," katanya.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif