Lombok yang luluh lantak akibat gempa. (Foto: AFP)
Lombok yang luluh lantak akibat gempa. (Foto: AFP)

Korban Gempa di Lombok Barat Butuh Air Bersih

Nasional Gempa Lombok
ant • 16 Agustus 2018 09:00
Lombok Barat: Para pengungsi di Dusun Wadon, Desa Kekait, Kabupaten Lombok Barat yang juga menjadi korban gempa bumi 7,0 Skala Richter pada Minggu, 5 Agustus membutuhkan suplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
"Kita minta ada suplai air bersih yang mencukupi dari pemerintah kepada warga," kata salah satu pengungsi di Dusun Wadon, Adi, di Lombok Barat, Rabu, 16 Agustus 2018.
 
Ia menuturkan selama berada di pengungsian, warga setempat hanya mengandalkan air sungai untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK), sedangkan untuk minum mereka bergantung pada air mineral dalam kemasan yang disumbangkan para donatur atau dermawan maupun bantuan pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka juga mendapatkan air dari sumur-sumur yang belum mengering, meskipun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. "Kalau kita pakai air dari PDAM, airnya keruh. Mau pakai air sumur juga enggak cukup, karena yang pakai kan banyak," ungkapnya.
 
Di Dusun Wadon, khususnya di posko pengungsian SDN 2 Kekait, kata Adi, terdapat 600 jiwa, sedangkan di seluruh dusun itu terdapat lebih dari 1.500 jiwa. Mereka tersebar di sejumlah titik pengungsian dengan kondisi
memprihatinkan. "Kondisinya sama dengan kita, kekurangan air bersih, tenda dan selimut. Kalau logistik alhamdulillah cukup," terangnya.
 
Dia mengatakan pascagempa 7,0 Skala Richter umumnya warga tinggal di posko-posko pengungsian. Pasalnya, banyak di antara warga yang harus kehilangan rumah-rumah mereka akibat hancur diguncang gempa. Mereka sampai
saat ini juga masih trauma atas peristiwa tersebut.
 
"Itu baru rumah, belum masjid dan sekolah juga ikut rusak. Di tambah masyarakat masih trauma," katanya.
 
Ia bersama warga lainnya berharap, persoalan air bersih bisa diperhatikan solusinya oleh pemerintah, melalui pemasangan tandon sebagai penampung air. Ia mengatakan bahwa tidak mungkin warga harus selamanya bergantung pada air sungai, apalagi saat ini musim kemarau.
 
Ia juga mengkhawatirkan air sungai pun akan berkurang dan mengering. Mereka juga dalam ancaman serangan  penyakit. "Harapan kita itu ada air yang mencukupi di lokasi pengungsian. Karena kalau belum ada itu kita khawatir masyarakat semakin sengsara," kata Rizal, warga lainnya yang menjadi pengungsi di Dusun Wadon.

 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif