medcom.id, Padang Lawas: Tragedi tsunami Aceh membekas di ingatan pasangan suami istri Septi Rangkuti dan Jamaliah. Betapa tidak, keduanya berpisah dengan dua anak mereka. Namun 10 tahun berlalu, Septi dan Jamaliah dapat kembali berkumpul bersama kedua buah hati mereka.
26 Desember 2004 menjadi hari paling berduka bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya. Termasuk Septi dan Jamaliah yang tak bisa menghindari bencana dahsyat itu.
Saat itu, sekira pukul 07.00 WIB, gempa mengguncang Serambi Mekah. Guncangannya begitu besar. Septi kemudian memacu sepeda motornya. Ia membonceng istri dan dua anaknya menuju tempat lebih aman.
Malang, gelombang tsunami menghantam jalan yang ia lalui. Septi dan keluarganya berusaha bertahan. Septi menyelamatkan dua anak mereka, Arif Pratama Rangkuti dan Roudatul Janah dengan menggunakan papan bekas pintu rumah.
Saat itu, Arif masih berusia tujuh tahun dan Roudatul berusia empat tahun. Gelombang besar malah menghanyutkan keduanya. Keluarga itu pun terpisah.
Duka semakin mendalam. Lantaran usaha Septi dan Jamaliah mencari kedua buah hati mereka tak membuahkan hasil. Pada 2005, keduanya pulang ke Desa Paringgonan, Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara.
Dua suami istri itu trauma dengan bencana yang merenggut Arif dan Roudatul dari pelukan mereka. Namun hidup harus terus berjalan.
Di Desa Paringgonan, mereka membuka warung dan usaha menjahit. Kenangan tentang kedua anak mereka tak pernah hilang. Pola tingkah lucu kedua bocah itu terus membekas di benak Septi dan Jamaliah. Ya, orangtua mana yang tak bersedih bila anak-anaknya menghilang dalam bencana.
Takdir masih menyayangi keluarga tersebut. Pada Juli 2014, Septi dan Jamaliah dipertemukan dengan kedua anak mereka. Sepuluh tahun berlalu, kerinduan yang tak berbendung pun membuncah saat mereka bertemu dengan rasa gembira.
Kini, mereka kembali menjalani hari demi hari di Desa Paringgonan. Arif dan Jamaliah tetap menjalankan usaha mereka untuk bertahan hidup. Sementara kedua anak mereka bersekolah.
Meski bencana terjadi 10 tahun lalu, Roudatul masih sangat ingat kejadian malang yang menimpanya. Ia masih ingat saat gelombang menghanyutkan papan yang dirinya gunakan bersama abangnya, Arif. Ia juga masih ingat saat mengapung-apung di perairan dekat Pulau Nias.
"Tiba-tiba sudah sampai di Pulau Nias. Ada orang pergi ke laut, namanya Bustami. Tolong-tolong. Ditolonglah kami. Dikasih (dibawa) ke darat. Pertama-tama aku dulu baru abang," kisah Roudatul yang ditemui di sekolahnya.
Lalu, warga bernama Bustami itu membawa keduanya ke rumahnya. Setelah memulihkan kondisi fisik, kesedihan kembali mendera Roudatul. Saat itu, ia masih berusia sekira empat tahun. Sudahlah berpisah dengan orangtua, Roudatul harus berpisah lagi dari abangnya.
Hingga akhirnya, pada 2014, seorang ibu bernama Rostu menemui dan bertanya-tanya padanya. Di situlah, Rostu mengetahui Roudatul sebagai korban tsunami yang terpisah dari kedua orangtuanya.
Tak lama kemudian, Rostu kembali menemui Roudatul. Berkat Rostu pula, Roudatul dapat bertemu dengan orangtua kandungnya dan berkumpul lagi bersama abangnya.
"Tak ingat berapa lama tak bertemu dengan orangtua. Senang saat bertemu dengan orangtua," kisahnya.
Sementara Jamaliah dan Septi terus berusaha menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka. Jamaliah mengaku, sebelum tsunami menerjang, kehidupan dan usahanya berjalan lancar di Aceh.
Namun apa daya, tsunami menghancurkan usahanya. Ia pun kembali merintis usaha di kampung halamannya berkat bantuan warga dan donatur. Hanya saja, usahanya saat ini belum selancar saat ia masih berada di Aceh. Ia pun berharap pemerintah dapat membantu mendukung usahanya tersebut.
Sulaiman Siregar
medcom.id, Padang Lawas: Tragedi tsunami Aceh membekas di ingatan pasangan suami istri Septi Rangkuti dan Jamaliah. Betapa tidak, keduanya berpisah dengan dua anak mereka. Namun 10 tahun berlalu, Septi dan Jamaliah dapat kembali berkumpul bersama kedua buah hati mereka.
26 Desember 2004 menjadi hari paling berduka bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya. Termasuk Septi dan Jamaliah yang tak bisa menghindari bencana dahsyat itu.
Saat itu, sekira pukul 07.00 WIB, gempa mengguncang Serambi Mekah. Guncangannya begitu besar. Septi kemudian memacu sepeda motornya. Ia membonceng istri dan dua anaknya menuju tempat lebih aman.
Malang, gelombang tsunami menghantam jalan yang ia lalui. Septi dan keluarganya berusaha bertahan. Septi menyelamatkan dua anak mereka, Arif Pratama Rangkuti dan Roudatul Janah dengan menggunakan papan bekas pintu rumah.
Saat itu, Arif masih berusia tujuh tahun dan Roudatul berusia empat tahun. Gelombang besar malah menghanyutkan keduanya. Keluarga itu pun terpisah.
Duka semakin mendalam. Lantaran usaha Septi dan Jamaliah mencari kedua buah hati mereka tak membuahkan hasil. Pada 2005, keduanya pulang ke Desa Paringgonan, Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara.
Dua suami istri itu trauma dengan bencana yang merenggut Arif dan Roudatul dari pelukan mereka. Namun hidup harus terus berjalan.
Di Desa Paringgonan, mereka membuka warung dan usaha menjahit. Kenangan tentang kedua anak mereka tak pernah hilang. Pola tingkah lucu kedua bocah itu terus membekas di benak Septi dan Jamaliah. Ya, orangtua mana yang tak bersedih bila anak-anaknya menghilang dalam bencana.
Takdir masih menyayangi keluarga tersebut. Pada Juli 2014, Septi dan Jamaliah dipertemukan dengan kedua anak mereka. Sepuluh tahun berlalu, kerinduan yang tak berbendung pun membuncah saat mereka bertemu dengan rasa gembira.
Kini, mereka kembali menjalani hari demi hari di Desa Paringgonan. Arif dan Jamaliah tetap menjalankan usaha mereka untuk bertahan hidup. Sementara kedua anak mereka bersekolah.
Meski bencana terjadi 10 tahun lalu, Roudatul masih sangat ingat kejadian malang yang menimpanya. Ia masih ingat saat gelombang menghanyutkan papan yang dirinya gunakan bersama abangnya, Arif. Ia juga masih ingat saat mengapung-apung di perairan dekat Pulau Nias.
"Tiba-tiba sudah sampai di Pulau Nias. Ada orang pergi ke laut, namanya Bustami. Tolong-tolong. Ditolonglah kami. Dikasih (dibawa) ke darat. Pertama-tama aku dulu baru abang," kisah Roudatul yang ditemui di sekolahnya.
Lalu, warga bernama Bustami itu membawa keduanya ke rumahnya. Setelah memulihkan kondisi fisik, kesedihan kembali mendera Roudatul. Saat itu, ia masih berusia sekira empat tahun. Sudahlah berpisah dengan orangtua, Roudatul harus berpisah lagi dari abangnya.
Hingga akhirnya, pada 2014, seorang ibu bernama Rostu menemui dan bertanya-tanya padanya. Di situlah, Rostu mengetahui Roudatul sebagai korban tsunami yang terpisah dari kedua orangtuanya.
Tak lama kemudian, Rostu kembali menemui Roudatul. Berkat Rostu pula, Roudatul dapat bertemu dengan orangtua kandungnya dan berkumpul lagi bersama abangnya.
"Tak ingat berapa lama tak bertemu dengan orangtua. Senang saat bertemu dengan orangtua," kisahnya.
Sementara Jamaliah dan Septi terus berusaha menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka. Jamaliah mengaku, sebelum tsunami menerjang, kehidupan dan usahanya berjalan lancar di Aceh.
Namun apa daya, tsunami menghancurkan usahanya. Ia pun kembali merintis usaha di kampung halamannya berkat bantuan warga dan donatur. Hanya saja, usahanya saat ini belum selancar saat ia masih berada di Aceh. Ia pun berharap pemerintah dapat membantu mendukung usahanya tersebut.
Sulaiman Siregar
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RRN)