Pawai obor dan suasana doa bersama untuk Kiai Abdullah Sajjad di lapangan Kemisan di Desa Guluk-guluk, Sumenep. Medcom.id/Rahmatullah
Pawai obor dan suasana doa bersama untuk Kiai Abdullah Sajjad di lapangan Kemisan di Desa Guluk-guluk, Sumenep. Medcom.id/Rahmatullah

Cara Sumenep Kenang Perjuangan Kiai Sajjad Lawan Belanda

Nasional pahlawan sejarah
Rahmatullah • 25 Agustus 2019 08:52
Sumenep: Lapangan Kemisan di Desa Guluk-guluk, Sumenep Jawa Timur, dipenuhi ribuan masyarakat pada Sabtu malam, 24 Agustus 2019. Mereka terdiri dari santri, kiai, wali santri, tokoh masyarakat dan masyarakat umum.
 
Mereka berkumpul di lokasi tersebut untuk mengenang jasa dan mendoakan almarhum Kiai Haji Abdullah Sajjad, pimpinan Laskar Sabilillah yang ditembak mati tentara Belanda pada 1947.
 
Ribuan masyarakat berangkat dari Masjid Jamik Pondok Pesantren Annuqayah menggunakan obor dan pawai kurang lebih dua kilometer. Sebagian ada yang menggelar teatrikal sepanjang jalan. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh PAC GP Ansor Kecamatan Guluk-guluk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ini merupakan pertama kali dilakukan Ansor. Kita berharap tahun berikutnya terus diadakan,” kata Ketua PAC Ansor Guluk-guluk, Nurul Yaqin.
 
Perjuangan Kiai Sajjad pantas untuk dikenang generasi sekarang. Berdasarkan literatur yang ada, Kiai Sajjad gigih berjuang mengusir tentara Belanda meski Indonesia telah memerdekakan diri pada 1945. Kiai Sajjad menjadi target Belanda untuk dihabisi.
 
Kiai Sajjad diburu karena menjadi penggerak masyarakat dan aktor perlawanan ke Belanda. Pasukan Kiai Sajjad dipukul mundur karena tentara Belanda lebih solid. Demi menyusun kekuatan, dia pun keluar dari Annuqayah sebagai markas Sabilillah dan bergerilya ke wilayah Karduluk, Kecamatan Pragaan.
 
Tentara Belanda terus mengendus keberadaan Kiai Sajjad. Suatu ketika, suruhan Belanda datang mengirimkan surat ke Kiai Sajjad yang memintanya untuk segera kembali ke Annuqayah. Kiai Sajjad pun pulang ke Annuqayah tanpa curiga.
 
“Singkat cerita, Kiai Sajjad berhasil ditangkiap Belanda dan dibawa ke lapangan Kemisan ini. Di sini, menurut literatur itu, Kiai Sajjad ditembak saat sedang salat sunnah karena menolak tunduk pada Belanda,” jelas Nurul.
 
Untuk menarik perhatian warga agar datang ke acara tersebut, Nurul menyebut menyediakan hadiah bagi yang menang undian. Dia bersyukur masyarakat yang ikut mendoakan Kiai Sajjad di luar dugaan.
 

(SUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif