Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah Diduga Terjadi di Malang

Nasional Kepala Sekolah
Daviq Umar Al Faruq • 23 Desember 2019 16:34
Malang: Praktik jual beli jabatan kepala sekolah diduga terjadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dugaan ini muncul usai pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan fungsional, Kepala Puskesmas, Kepala Sekolah, dan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar di Lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Sabtu 14 Desember 2019 lalu.
 
Muhammad Syafi'i, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SDN Bendosari 2, Pujon, tiba-tiba dipindah ke SDN Ngabab 3, Pujon saat pelantikan tersebut. Padahal tidak ada pemberitahuan apapun sebelumnya.
 
"Saya hanya diminta datang ke Pendopo, Sabtu lalu. Sama halnya dengan kepala sekolah lainnya," kata Syafi'i saat dikonfirmasi, Senin, 23 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Syafi'i menjelaskan mutasi saat itu berlangsung mendadak. Mutasi yang berlangsung diakuinya tanpa pemberitahuan yang jelas dan tidak transparan.
 
"Setelah para kepala sekolah berkumpul di pendopo, mereka baru mengetahui bila ada pelantikan dan pengukuhan," jelas Syafi'i.
 
Sama halnya dengan, Subari Yanti, yang sebelumnya mengabdi di SDN Gading Kulon 3, Dau, saat pelantikan tersebut dia dipindah ke SDN Kalisongo 2, Dau. Dia menilai proses mutasi ini janggal.
 
Menurut Yanti ada sekitar belasan kepala sekolah yang kecewa dan tidak terima dengan mutasi tersebut. Namun belasan kepala sekolah ini tidak bisa berbuat banyak.
 
"Setelah acara pelantikan baru tahu kalau saya dipindah. Jarak tempuh dari rumah saya ke sekolah yang semula 3 kilometer menjadi 10 kilometer," keluh Yanti.
 
Yanti menjelaskan pelantikan tersebut berakhir dengan suasana yang cukup menyedihkan. Banyak kepala sekolah yang kecewa lantaran dimutasi ke sekolah yang lokasinya lebih jauh dari rumah.
 
"Bahkan ada kepala sekolah yang hanya tinggal menunggu masa pensiun, lalu dimutasi ke sekolahan lain yang jarak tempuhnya lebih jauh, sekitar 7 kilometer memutari bukit dari sekolahan sebelumnya," ungkap Yanti.
 
Bupati Malang, M Sanusi, menduga ada yang tidak beres dalam pelantikan tersebut. Sebab dia menegaskan bahwa seharusnya tidak ada mutasi saat pelantikan dilakukan.
 
"Tidak ada perintah mutasi, penyegaran atau apa pun. Kemarin itu hanya pengukuhan. Pasti ada yang bermain di balik ini semua," kata Sanusi, Senin, 23 Desember 2019.
 
Sanusi menjelaskan mutasi memang sengaja tidak dilakukan dalam waktu dekat ini karena menjelang ujian sekolah. Selain itu dia mengaku mutasi seharusnya lebih mendekatkan tempat tinggal kepala sekolah dengan sekolah.
 
Oleh karena itu Sanusi mengaku bakal memerintahkan pihak inspektorat untuk menginvestigasi kasus ini dan menyelesaikannya secara tuntas. Sebab, dia sendiri menduga adanya praktik jual beli jabatan dalam pelantikan tersebut.
 
"Saya menengarai ada yang bermain mutasi jabatan. Bila nanti terbukti dan bila ada permainan uang, akan saya pecat," tegas Sanusi.
 
Selain itu Sanusi pun bakal membatalkan Surat Keputusan (SK) pelantikan dan pengambilan sumpah janji jabatan fungsional, Kepala Puskesmas, Kepala Sekolah dan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar di Lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, Sabtu, 14 Desember 2019 lalu.
 
"Sebagai langkah cepat kita batalkan semua," pungkas Sanusi.

 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif