NEWSTICKER
Aktivitas masyarakat di Perbatasan RI-PNG di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.
Aktivitas masyarakat di Perbatasan RI-PNG di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.

Ekonomi di Lintas Batas RI-PNG Mati Suri

Nasional Virus Korona
Roylinus Ratumakin • 18 Maret 2020 16:19
Jayapura: Penutupan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang ada Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, berdampak pada perekonomian masyarakat di sekitarnya.
 
Kasubid Keamanan dan Kebersihan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Mathilda Pusung, mengatakan, tidak ada aktivitas perekonomian sama sekali di wilayah itu.
 
“Tidak ada perdagangan, tidak ada perlintasan, semuanya close (tutup). Wisatawan lokal masih bisa ke perbatasan, namun hanya sampai gerbang pelintas batas saja,” kata Mathilda, Rabu, 18 Maret 2020 di Jayapura.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kata Mathilda, penutupan PLBN Skouw bertujuan untuk mencegah penyebaran virus korona. Penutupan telah berlaku sejak 30 Januari 2020 hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
 
"Itu hasil kesepakatan dari unsur karantina kesehatan, karantina ikan, karantina tumbuhan, dan stakeholder perbatasan dari Pemerintah Provinsi Papua, Kota Jayapura, TNI, dan Polri,” ujarnya.
 
Baca juga:Pedagang Demam Dilarang Masuk Pasar
 
Kendati telah ditutup, petugas keamanan tetap disiagakan. Alat pengukur suhu tubuh juga dipasang sebagai bagian dari antisipasi penyebaran virus.
 
“Kami juga tetap melakukan edukasi dan sosialisasi. Petugas (di PLBN) dilengkapi alat pelindung diri berupa masker mulut dan sarung tangan,” katanya.
 
Terkait dengan jumlah kunjungan, imbuh dia, laporan yang diterima per Januari 2020, jumlah paspor untuk kedatangan sebanyak 247 orang, sedangkan yang memiliki Pas Lintas Batas (PLB) sebanyak 539 orang.
 
“Keberangkatan berjumlah 319 (paspor), PLB ada 539 orang,” ujarnya.
 
Baca juga:Bisnis Jasa Pengiriman Barang Belum Terimbas Virus Korona
 
Terpisah Kepala Bank Indonesia (BI) Papua, Naek Tigor Sinaga, mengatakan, penutupan PLBN Skouw berdampak pada omzet pedagang.
 
“Satu minggu pasar hanya dua kali. Per hari perputaran uang di Skouw sebesar Rp3 miliar. Kalau sebulan Rp24 miliar. Dilihat dari persentasenya, (penurunan omzet) tidak signifikan. Justru dikhawatirkan kalau perbatasan secara formal tutup,” kata Naek.
 
Tak hanya omzet pedagang dan perputaran uang, kata Sinaga, uang Kina (mata uang PNG) juga sangat susah ditemui di perbatasan Skouw karena tidak ada aktivitas perdagangan. Sehingga berpengaruh pada produk impor seperti vanila dan produk kehutanan lainnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif