Masjid Darussalam Sukoharjo, saksi bisu Perang Diponegoro. (jatengprov.go.id)
Masjid Darussalam Sukoharjo, saksi bisu Perang Diponegoro. (jatengprov.go.id)

Masjid Darussalam Sukoharjo Saksi Bisu Perang Diponegoro, Tak Mempan Dibom Belanda

Nasional Masjid sejarah jawa tengah
Inibaru • 20 April 2022 08:30
Sukoharjo: Di Indonesia, ada banyak masjid dengan latar belakang sejarah yang tidak biasa. Salah satunya adalah Masjid Darussalam Sukoharjo, Jawa Tengah. Masjid ini kabarnya pernah dibombardir Belanda di masa penjajahan namun sama sekali tidak hancur.
 
Masjid Darussalam berada di Kampung Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo. Usia masjid ini cukup tua karena kabarnya didirikan pada abad ke-14. Bisa dikatakan, masjid ini sudah ada di masa awal penyebaran Islam di Jawa.
 
Meski begitu, popularitas masjid tertua di Sukoharjo ini justru muncul dari kisah Pangeran Diponegoro. Pada masa kolonial, Raja Keraton Solo Paku Buwono VI sering mengadakan pertemuan dengan Pangeran Diponegoro di masjid tersebut. Selain dijadikan tempat ibadah, masjid ini juga dipakai sebagai markas perjuangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sayangnya, lambat laun Belanda memgetahui masjid ini. Mereka pun melancarkan serangan ke Karanggudel. Masjid ini pun tak luput jadi sasaran. Meski dibombardir meriam habis-habisan, masjid ini sama sekali tidak hancur.
 
Baca: Beduk Terbesar se-Indonesia Ada di Mojokerto, Begini Penampakannya
 
“Masjid dibombardir tembakan meriam namun tidak hancur. Hanya bangunan bagian depan yang hancur. Ini mukjizat Allah,” terang takmir Masjid Darussalam Sehono.
 
Tujuh tahun usai Perang Diponegoro berakhir, yakni 1837, Paku Buwono VII yang menjabat akhirnya merenovasi masjid ini bersama dengan warga setempat dan para alim ulama. Hasil renovasi ini pun bertahan hingga sekarang.
 
Yang menarik, renovasi membuat masjid ini memiliki kubah yang unik karena berbentuk seperti bunga wijaya kusuma.
 
“Bunga wijaya kusuma merupakan pusaka Bathara Kresna. Wijaya bermakna kemenangan sementara Kusuma berarti bunga. Filosofinya yakni bunga kemenangan terhadap lawan dan diri sendiri melawan nafsu duniawi,” lanjut Sehono.
 
Di dalam Masjid Darussalam Sukoharjo, ada sebuah sumur yang tertutup kaca bernama Sumur Kyai Pleret. Isunya sih, sumur ini adalah tempat harta karun yang digunakan untuk keperluan perang di masa kolonial. Namun, Sehono memastikan isu tersebut hanyalah cerita turun-temurun yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
 
“Sumber sejarah mengenai Masjid Darussaalam sampai saat ini masih terbatas,” terangnya.
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif