Warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) melakukan tabur bunga di TMP Kalibata, Jakarta. Foto: Istimewa
Warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) melakukan tabur bunga di TMP Kalibata, Jakarta. Foto: Istimewa

Peristiwa Merah Putih Sulut Dikenang di TMP Kalibata

Nasional pahlawan
14 Februari 2019 19:55
Jakarta: Memperingati Hari Pejuang Merah Putih 14 Februari 1946, Warga Kawanua, Sulawesi Utara (Sulut), melaksanakan upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) itu merupakan keturunan dari para pejuang yang gugur mempertahankan kedaulatan Indonesia di Sulut.
 
Ketua Umum KKK Angelica Tengker mengatakan penghormatan patut dilakukan karena orang tua mereka sudah berjuang mempertahankan kemerdekaan di Sulut.
 
"Kisah perjuangan orang tua bergema sampai ke luar negeri. Menurunkan bendera Belanda di seluruh wilayah, menggunting warna birunya, dan mengibarkan kembali sisanya yakni merah putih," kata Angelica yang merupakan putri dari Benny Tengker, salah satu pejuang aksi Merah Putih di Sulut, melalui keterangan tertulis, 14 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Upacara penghormatan dimulai dengan mengheningkan cipta, dilanjutkan tabur bunga, dan penghormatan terakhir. "Ini kami lakukan untuk membangkitkan rasa nasionalisme generasi muda," katanya.
 
Pemimpin rombongan KKK, Mayjen Ivan R Pelealu, menjelaskan peristiwa Pejuang Merah Putih di Sulut perlu terus dikenang agar generasi muda tak lupa akan perjuangan orang tua mereka.
 
"Dulu kan belum ada alat komunikasi seperti saat ini. Kalau sekarang, kejadian baru berlangsung ini bisa tersebar cepat ke mana-mana? kata dia.
 
Peristiwa 14 Februari 1946, kata dia, layak diperingati sebagai rasa hormat kepada para pejuang. "Kami berharap 14 Februari bisa dijadikan hari nasional untuk memperingati Perjuangan Merah Putih Sulut," kata Ivan.
 
Aksi heroik Peristiwa Merah Putih Sulut bersumber dari Ben Wowor, 97, salah satu pelaku sejarah yang masih hidup. Pada 14 Februari 1946 gerakan patriotik Merah Putih berhasil meng-kudeta kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi Utara.
 
Peristiwa ini justru kurang dikenal di Tanah Air. Namun, di media massa luar negeri, peristiwa ini bergema. Media massa Amerika, Australia, dan Inggris menulis jika peristiwa ini merupakan satu satunya gerakan perlawanan nasional Indonesia yang berhasil menumpas kolonialisme dan mengambil alih kekuasaan resmi.
 
Peristiwa yang mirip dengan insiden di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), Surabaya, pada 10 November 1945 ini merupakan aksi simbolis menurunkan bendera Belanda di seluruh wilayah Sulut. Para pejuang menggunting warna biru pada bendera Belanda dan mengibarkan kembali bagian sisanya, yakni merah dan putih sebagai simbol kemerdekaan Indonesia.
 
Peristiwa ini disorot tentara Sekutu yang bermarkas di Makassar dan Morotai. Mereka sampai mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintahan yang baru telah berdiri di Sulawesi Utara.
 
Presiden Sukarno yang tengah di Yogyakarta mendengar kabar heroik ini dari Radio AFP Australia. Ia terharu dengan perjuangan pejuang Sulut. “Minahasa, walaupun daerah terpencil di wilayah RI, namun putra-putranya telah memperlihatkan aksi kepahlawanannya terhadap panggilan Ibu Pertiwi!”
 
Di jalur perjuangan diplomatik internasional, Duta Republik Indonesia di PBB, LN Palar, segera mematahkan argumentasi Belanda yang berupaya meyakinkan publik dunia bahwa 'Negara Indonesia' itu tidak ada. Berita bertajuk “pemberontakan besar di Minahasa Sulawesi Utara” yang didengar Palar dari Radio San Francisco USA dan BBC London itu langsung membungkam Kleffen, Duta Kerajaan Belanda di PBB.
 

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif