Pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala di Tukka sebagai infrastruktur pengendali sedimen. Foto: Kemendagri.
Pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala di Tukka sebagai infrastruktur pengendali sedimen. Foto: Kemendagri.

Pembangunan Sabo Dam di Tapanuli Tengah Lindungi Warga dari Potensi Bencana Susulan

Arif Wicaksono • 10 September 2026 18:50
Ringkasnya gini..
  • Penanganan kawasan hulu Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dipercepat untuk mengantisipasi banjir susulan serta melindungi permukiman dan lahan pertanian warga.
  • Pada tahap awal, Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala disiapkan untuk memperkuat pengendalian aliran air dan sedimen.
Jakarta: Penanganan kawasan hulu Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dipercepat untuk mengantisipasi banjir susulan serta melindungi permukiman dan lahan pertanian warga bila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala di Tukka sebagai infrastruktur pengendali sedimen.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan, Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan bencana di Sumatera Utara. Pengendapan lumpur sebelumnya berdampak pada permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah, hingga persawahan.
 
Baca juga: Pemprov Aceh Percepat Sinkronisasi Anggaran dan Data Pemulihan Pascabencana

“Penanganan di wilayah hulu ini harus kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berdampak ke masyarakat,” ujar Tito saat meninjau progres rehab-rekon pascabencana di Tapanuli Tengah, Kamis (10/9/2026).

Menurut Tito, Kecamatan Tukka membutuhkan sistem khusus untuk menghadapi curah hujan sekaligus aliran sedimen dari kawasan perbukitan. Karena itu, pembangunan Sabo Dam menjadi bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.

Pada tahap awal, Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala disiapkan untuk memperkuat pengendalian aliran air dan sedimen. Pembangunan tahap awal tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Penguatan sistem akan dilanjutkan tahun depan melalui pembangunan dua Sabo Dam tambahan. Dengan demikian, total akan terdapat empat Sabo Dam khusus di Kecamatan Tukka untuk memperkuat perlindungan kawasan.

“Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua. Jadi totalnya empat, khusus Sabo Dam di Kecamatan Tukka,” kata Tito.

Pembangunan Sabo Dam berjalan beriringan dengan normalisasi saluran air sungai dan pembangunan dinding penahan atau retaining wall sepanjang 1,6 kilometer. Infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk memperkuat perlindungan kawasan dari aliran air dan material yang berpotensi kembali mengancam permukiman.

Di sisi lain pemulihan rumah warga dan fasilitas pelayanan dasar yang terdampak juga dilakukan. Langkah tersebut diperlukan agar pemulihan masyarakat tetap berjalan tanpa menunggu seluruh pekerjaan pengendalian di kawasan hulu selesai.

Tito menegaskan, seluruh program pemulihan Tapanuli tengah perlu dilakukan secara paralel. Penguatan infrastruktur di hulu, normalisasi sungai, serta pemulihan berbagai fasilitas terdampak menjadi satu rangkaian penanganan untuk mengurangi risiko sekaligus mempercepat kembalinya aktivitas masyarakat.

Dengan percepatan penanganan tersebut, Tapanuli Tengah diharapkan tidak hanya pulih dari dampak bencana, tetapi juga memiliki sistem perlindungan yang lebih kuat menghadapi ancaman banjir dan sedimentasi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>