medcom.id, Jakarta: Kisah Sumarti Ningsih di Hong Kong berakhir tragis. Tubuh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di restoran itu ditemukan tak bernyawa dan membusuk dalam koper.
Gadis asal Cilacap tersebut menjadi korban kebiadaban Rurik Jutting, lelaki asal Inggris yang tinggal di Hong Kong. Rurik diduga sebagai teman asmara Sumarti.
Sejatinya, Rurik tak pernah ada dalam catatan kehidupan di akun Facebook Sumarti. Tak sekalipun Sumarti menyebut nama Rurik, pun tak ada satupun foto Rurik mejeng di lini masa Facebook Sumarti.
Akun Facebook Sumarti tak seperti nama yang didengar selama ini. Dia memberi nama akun Facebooknya, Ningsih Aliz Arnovan. Terakhir kali Ningsih beraktivitas di Facebook yakni pada 19 Oktober 2014. Aktivitas yang dilakukannya yaitu mengganti gambar profil dirinya.
Dalam foto profil baru yang diunggahnya, Ningsih ber-selfie dengan memantulkan gambar bidikan kamera ponsel ke cermin. Dia memakai kacamata besar sambil bertolak pinggang. Ningsih dibalut tanktop putih dan hotpants hitam. Jam tangan kotak model digital melingkar di lengan kiri yang bertumpu pada pinggangnya.
Selain mengunggah foto untuk mengganti profilnya, Ningsih juga menunggah foto lain di hari itu. Foto yang diunggah 2,5 jam sebelumnya itu memperlihatkan yang bersangkutan tengah berada di samping sebuah taman berpagar. Sumarti mengenakan kaos lengan panjang dengan celana jeans pendek sepaha. Posenya kurang lebih sama, bekacak pinggang. Namun, satu tangannya terangkat ke atas.
Sebagian besar unggahan Sumarti adalah foto. Gambar-gambar itu memperlihatkan dirinya bersama teman atau anjing kecilnya. Tak satupun unggahan Ningsih mengindikasikan hubungannya dengan Rurik Jutting.
Hanya saja, terselip sebuah kalimat dalam satu foto yang diunggahnya menyebut mr xxx; "Broken heart girl jajajaja lets forget mr xxx lets find some to make we are happy." Namun, kalimat itu berlanjut dengan penyebutan nama teman Sumarti, Susie Christy.
Dalam profilnya, Sumarti mengaku berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Dia mengklaim berasal dan dilahirkan di Bungo, Sumatra Barat.
Sementara itu, pihak keluarga mengaku berkomunikasi dengan Sumarti Ningsih dua pekan sebelum mendapat kabar tentang kematiannya di Hong Kong. Saat berkomunikasi pada 15 Oktober 2014, Sumarti mengatakan ingin pulang.
Kepada ayahnya, Ahmad Kaliman, Sumarti berjanji bakal pulang ke Cilacap pada 2 November 2014. Itu merupakan kali pertama sejak Sumarti merantau di Hong Kong, tiga bulan lalu. Tak dinyana, perempuan kelahiran 1991 itu justru pulang dalam kondisi tak bernyawa.
Pada Sabtu (1/10/2014), kepolisian Hong Kong menangkap bankir muda asal Inggris, Rurik Jutting, di sebuah apartemen. Ia dituduh membunuh Sumarti dan seorang perempuan asal Filipina, Jesse Lorena Ruri.
Polisi menemukan jasad Sumarti membusuk dalam koper. Tangan dan kakinya diikat. Polisi memperkirakan Sumarti meninggal lima hari lalu.
Sementara Jesse ditemukan dalam kondisi hidup dengan luka parah di leher. Namun ia meninggal tak lama setelah polisi menemukannya.
Mainan seks dan narkotika jenis kokain ditemukan di kamar apartemen tersebut. Polisi juga menemukan pisau sepanjang 12 inchi yang diduga sebagai alat untuk membunuh dua perempuan itu.
Keluarga berharap pemerintah dapat memulangkan Sumarti ke kampung halamannya di Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap. Keluarga juga menuntut pelaku dihukum mati atas perbuatannya terhadap Sumarti.
medcom.id, Jakarta: Kisah Sumarti Ningsih di Hong Kong berakhir tragis. Tubuh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di restoran itu ditemukan tak bernyawa dan membusuk dalam koper.
Gadis asal Cilacap tersebut menjadi korban kebiadaban Rurik Jutting, lelaki asal Inggris yang tinggal di Hong Kong. Rurik diduga sebagai teman asmara Sumarti.
Sejatinya, Rurik tak pernah ada dalam catatan kehidupan di akun Facebook Sumarti. Tak sekalipun Sumarti menyebut nama Rurik, pun tak ada satupun foto Rurik mejeng di lini masa Facebook Sumarti.
Akun Facebook Sumarti tak seperti nama yang didengar selama ini. Dia memberi nama akun Facebooknya, Ningsih Aliz Arnovan. Terakhir kali Ningsih beraktivitas di Facebook yakni pada 19 Oktober 2014. Aktivitas yang dilakukannya yaitu mengganti gambar profil dirinya.
Dalam foto profil baru yang diunggahnya, Ningsih ber-selfie dengan memantulkan gambar bidikan kamera ponsel ke cermin. Dia memakai kacamata besar sambil bertolak pinggang. Ningsih dibalut tanktop putih dan hotpants hitam. Jam tangan kotak model digital melingkar di lengan kiri yang bertumpu pada pinggangnya.
Selain mengunggah foto untuk mengganti profilnya, Ningsih juga menunggah foto lain di hari itu. Foto yang diunggah 2,5 jam sebelumnya itu memperlihatkan yang bersangkutan tengah berada di samping sebuah taman berpagar. Sumarti mengenakan kaos lengan panjang dengan celana jeans pendek sepaha. Posenya kurang lebih sama, bekacak pinggang. Namun, satu tangannya terangkat ke atas.
Sebagian besar unggahan Sumarti adalah foto. Gambar-gambar itu memperlihatkan dirinya bersama teman atau anjing kecilnya. Tak satupun unggahan Ningsih mengindikasikan hubungannya dengan Rurik Jutting.
Hanya saja, terselip sebuah kalimat dalam satu foto yang diunggahnya menyebut mr xxx; "Broken heart girl jajajaja lets forget mr xxx lets find some to make we are happy." Namun, kalimat itu berlanjut dengan penyebutan nama teman Sumarti, Susie Christy.
Dalam profilnya, Sumarti mengaku berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Dia mengklaim berasal dan dilahirkan di Bungo, Sumatra Barat.
Sementara itu, pihak keluarga mengaku berkomunikasi dengan Sumarti Ningsih dua pekan sebelum mendapat kabar tentang kematiannya di Hong Kong. Saat berkomunikasi pada 15 Oktober 2014, Sumarti mengatakan ingin pulang.
Kepada ayahnya, Ahmad Kaliman, Sumarti berjanji bakal pulang ke Cilacap pada 2 November 2014. Itu merupakan kali pertama sejak Sumarti merantau di Hong Kong, tiga bulan lalu. Tak dinyana, perempuan kelahiran 1991 itu justru pulang dalam kondisi tak bernyawa.
Pada Sabtu (1/10/2014), kepolisian Hong Kong menangkap bankir muda asal Inggris, Rurik Jutting, di sebuah apartemen. Ia dituduh membunuh Sumarti dan seorang perempuan asal Filipina, Jesse Lorena Ruri.
Polisi menemukan jasad Sumarti membusuk dalam koper. Tangan dan kakinya diikat. Polisi memperkirakan Sumarti meninggal lima hari lalu.
Sementara Jesse ditemukan dalam kondisi hidup dengan luka parah di leher. Namun ia meninggal tak lama setelah polisi menemukannya.
Mainan seks dan narkotika jenis kokain ditemukan di kamar apartemen tersebut. Polisi juga menemukan pisau sepanjang 12 inchi yang diduga sebagai alat untuk membunuh dua perempuan itu.
Keluarga berharap pemerintah dapat memulangkan Sumarti ke kampung halamannya di Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap. Keluarga juga menuntut pelaku dihukum mati atas perbuatannya terhadap Sumarti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)