Dua TKI Melarikan Diri dari Malaysia Karena Upah Minim

Antara 13 September 2018 19:43 WIB
derita tki
Dua TKI Melarikan Diri dari Malaysia Karena Upah Minim
Ilustrasi TKI - Antara
Nunukan: Dua tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) melarikan diri dari majikannya di Negeri Sabah, Malaysia. Usai melarikan diri tersebut, keduanya  dipulangkan Konsulat Republik Indonesia Tawau ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Kedua TKI tersebut bernama Ajwin, 29, dan Musfir bin Ibrahim, 24. Keduanya berasal dari Desa Nggelu Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB.

"Saya dan teman-teman lari karena upah yang dikasih tidak cukup untuk makan. Tidak sesuai dengan perjanjian awal," kata Musfir saat tiba di Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kamis sore, 13 September 2018.


Musfir mengaku sudah berada di Negeri Sabah sejak tiga tahun lalu. Dia diberangkatkan oleh Perusahaan Jasa TKI di daerahnya yang sudah tidak diketahui namanya.

Musfir menjelaskan, dirinya bersama rekan-rekannya dari Kabupaten Bima direkrut secara resmi oleh PJTKI tersebut dan diberangkatkan melalui Kabupaten Nunukan.

Musfir melarikan diri dari tempat kerjanya di Tanah Mas Telupid dan Ladang Ikatan Kayangan Negeri Sabah karena upah yang didapatkan setiap bulannya tidak sesuai perjanjian kontrak.

Setiap bulan Musfir hanya diberikan upah sebesar 300 ringgit Malaysia atau Rp1,5 juta dengan kurs Rp3.500 saat ini.

Bahkan dia menyatakan, teman-temannya yang bersamaan direkrut oleh PJTKI di Kabupaten Bima telah berpindah tempat kerja karena kecewa soal upah.

Selama di Negeri Sabah, Musfir bekerja memetik buah kelapa sawit. Saat melarikan diri dari majikannya di Ladang Ikatan Kayangan tiga hari baru tiba di Tawau dengan berjalan kaki.

Atas hak tersebut, Musfir akhirnya melaporkan ke Konsulat RI Tawau dan minta untuk dipulangkan ke kampung halamannya.

Sementara Kepala Unit Tempat Pemeriksaan Imigrasi Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Nasution mengatakan, kedua TKI asal NTB ini dipulangkan khusus oleh KRI Tawau dengan nomor surat 877/Kons/IX/2018 tertanggal 13 September 2018. Surat tersebut ditandatangani Iskandar Abdullah, Koordinator Perlindungan WNI KRI Tawau.



(DEN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id