medcom.id, Lewoleba: Suasana Wulandoni, Ibu kota Kecamatan wulandoni, Sabtu (19/4/2014) sekitar pukul 08.00 Wita sangat ramai.
Warga 4 Desa dan Dusun tetangga, memenuhi lapangan sepak bola, pusat perayaan Paskah di Wulandoni. Sejak pagi, pandangan mata mereka mengarah ke arah timur, satu-satunya jalan pintu masuk ke Wulandoni. Banyak ibu tak kuasa menahan air mata.
Warga Dusun Senaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni mendominasi kerumunan warga di sekitar lapangan sepak bola itu.
Tangis harupun pecah saat ambulans yang mengantar jenazah Antonius Duan alias Aldo Dokeng, siswa Kelas I SDK Lewuka, yang tewas dalam tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74, Jumad (18/4/2014) saat mengikuti prosesi laut Jumat Agung.
Putra semata wayang dari pasangan Yohanes Liku Dokeng dan Maria Goreti Nogo Wutun itu pada Selasa (15/4/2014), bersama neneknya, Edmundus Juang Wutun, berangkat dari Dusun Snaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata.
Anak berusia 7 tahun itu berniat mengikuti prosesi Samana Santa di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Ajakan tantenya, Juliana Wutun, pada Jumat (18/4), untuk menumpang KM Nelayan Bhakti 74, guna mengikuti prosesi laut tak kuasa ditolak bocah itu.
Kerabat korban, Yois Atawolo, kepada Media Indonesia, menuturkan keberangkatan Aldo sempat dilarang oleh ayahnya, Yohanes Liku Dokeng.
Namun, bocah itu bersikeras mengikuti neneknya untuk berlibur di Kota Larantuka, sekaligus mengikuti prosesi Samana Santa yang masyur itu.
Meski sempat dilarang neneknya untuk mengikuti prosesi laut yang sangat riskan, Aldo bersama tantenya dan anak sulung tantengnya, Tian, bergegas menumpang KM Nelayan Bhakti 74 yang saat itu dipenuhi lebih dari 60 peziarah.
"Neneknya sempat larang, tapi anak ini bilang kami jalan jauh dari sana mau ikut prosesi. Akirnya mereka bersama mama bonsunya (adik dari Ibu Aldo), berangkat dengan Fiber Flotim 74, dari Lewolere menuju Larantuka, dan akhirnya tenggelam di Selat Gonzalu," ujar Atawolo dengan suara terbata-bata.
Tak ada yang sanggup menduga adanya peristiwa yang merenggut nyawa, tepat di saat para korban khusyuk mendaraskan doa dan puji-pujian kepada Tuhan.
Aldo ditemukan tewas tak bernyawa di sekitar lokasi tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74 yang terbalik dengan posisi menelungkup. Sementara tante Aldo saat ini sekarat dan dirawat di RSUD Larantuka. Adapun Tian, 12, hingga kini belum ditemukan.
"Aldo ditemukan di sekitar lokasi tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74. Mama bonsunya masih sekarat di rumah sakit. Anak laki sulungnya juga belum dapat," ujar Atawolo.
Ayah Aldo, Yohanes Liku Dokeng, yang mendengar kisah memilukan itu di Kota Reinha, Larantuka, pada Jumat (18/4), pingsan seketika saat sedang berlatih koor untuk tanggungan Misa di Gereja Paroki Wulandoni, Sabtu (19/4/2014) petang dalam perayaan hari raya Sabtu Suci.
"Ayahnya berteriak histeris dan sempat memarahi isterinya yang mengizinkan anak semata wayang mereka itu mengikuti prosesi di Larantuka. Dia sempat mau menghajar istrinya tetapi tak jadi dan langsung pingsaan," ujar Atawolo.
Bocah yang dikenal pandai dan penurut itu, hanya berjanji kepada ayahnya untuk menceriterakan serunya prosesi Samana Santa di Kota Larantuka saat kembali.
Saat tiba di rumah duka Di Dusun Semuki, Desa Belobao, kampung kecil itu hanyut dalam tangis sahut-menyahut tak terelakan.
Di bibir meja tempat jenazah Aldo dibaringkan, Yohanes Liku Dokeng, dengan sisa-sisa suaranya meminta agar Aldo menceriterakan kembali perjalanannya saat mengikuti Samana Santa saat mereka bertemu di dunia lain. Suatu ketika. (Alexander)
medcom.id, Lewoleba: Suasana Wulandoni, Ibu kota Kecamatan wulandoni, Sabtu (19/4/2014) sekitar pukul 08.00 Wita sangat ramai.
Warga 4 Desa dan Dusun tetangga, memenuhi lapangan sepak bola, pusat perayaan Paskah di Wulandoni. Sejak pagi, pandangan mata mereka mengarah ke arah timur, satu-satunya jalan pintu masuk ke Wulandoni. Banyak ibu tak kuasa menahan air mata.
Warga Dusun Senaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni mendominasi kerumunan warga di sekitar lapangan sepak bola itu.
Tangis harupun pecah saat ambulans yang mengantar jenazah Antonius Duan alias Aldo Dokeng, siswa Kelas I SDK Lewuka, yang tewas dalam tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74, Jumad (18/4/2014) saat mengikuti prosesi laut Jumat Agung.
Putra semata wayang dari pasangan Yohanes Liku Dokeng dan Maria Goreti Nogo Wutun itu pada Selasa (15/4/2014), bersama neneknya, Edmundus Juang Wutun, berangkat dari Dusun Snaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata.
Anak berusia 7 tahun itu berniat mengikuti prosesi Samana Santa di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Ajakan tantenya, Juliana Wutun, pada Jumat (18/4), untuk menumpang KM Nelayan Bhakti 74, guna mengikuti prosesi laut tak kuasa ditolak bocah itu.
Kerabat korban, Yois Atawolo, kepada
Media Indonesia, menuturkan keberangkatan Aldo sempat dilarang oleh ayahnya, Yohanes Liku Dokeng.
Namun, bocah itu bersikeras mengikuti neneknya untuk berlibur di Kota Larantuka, sekaligus mengikuti prosesi Samana Santa yang masyur itu.
Meski sempat dilarang neneknya untuk mengikuti prosesi laut yang sangat riskan, Aldo bersama tantenya dan anak sulung tantengnya, Tian, bergegas menumpang KM Nelayan Bhakti 74 yang saat itu dipenuhi lebih dari 60 peziarah.
"Neneknya sempat larang, tapi anak ini bilang kami jalan jauh dari sana mau ikut prosesi. Akirnya mereka bersama mama bonsunya (adik dari Ibu Aldo), berangkat dengan Fiber Flotim 74, dari Lewolere menuju Larantuka, dan akhirnya tenggelam di Selat Gonzalu," ujar Atawolo dengan suara terbata-bata.
Tak ada yang sanggup menduga adanya peristiwa yang merenggut nyawa, tepat di saat para korban khusyuk mendaraskan doa dan puji-pujian kepada Tuhan.
Aldo ditemukan tewas tak bernyawa di sekitar lokasi tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74 yang terbalik dengan posisi menelungkup. Sementara tante Aldo saat ini sekarat dan dirawat di RSUD Larantuka. Adapun Tian, 12, hingga kini belum ditemukan.
"Aldo ditemukan di sekitar lokasi tenggelamnya KM Nelayan Bhakti 74. Mama bonsunya masih sekarat di rumah sakit. Anak laki sulungnya juga belum dapat," ujar Atawolo.
Ayah Aldo, Yohanes Liku Dokeng, yang mendengar kisah memilukan itu di Kota Reinha, Larantuka, pada Jumat (18/4), pingsan seketika saat sedang berlatih koor untuk tanggungan Misa di Gereja Paroki Wulandoni, Sabtu (19/4/2014) petang dalam perayaan hari raya Sabtu Suci.
"Ayahnya berteriak histeris dan sempat memarahi isterinya yang mengizinkan anak semata wayang mereka itu mengikuti prosesi di Larantuka. Dia sempat mau menghajar istrinya tetapi tak jadi dan langsung pingsaan," ujar Atawolo.
Bocah yang dikenal pandai dan penurut itu, hanya berjanji kepada ayahnya untuk menceriterakan serunya prosesi Samana Santa di Kota Larantuka saat kembali.
Saat tiba di rumah duka Di Dusun Semuki, Desa Belobao, kampung kecil itu hanyut dalam tangis sahut-menyahut tak terelakan.
Di bibir meja tempat jenazah Aldo dibaringkan, Yohanes Liku Dokeng, dengan sisa-sisa suaranya meminta agar Aldo menceriterakan kembali perjalanannya saat mengikuti Samana Santa saat mereka bertemu di dunia lain. Suatu ketika. (Alexander)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HNR)