Kolonel Sus Mardoto tidak percaya jika anaknya, mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori (Ace), bunuh diri. Foto: Patricia Vicka
Kolonel Sus Mardoto tidak percaya jika anaknya, mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori (Ace), bunuh diri. Foto: Patricia Vicka

Ayah Akseyna Merasa Ada Harapan

Nasional penemuan mayat pembunuhan kasus pembunuhan
Ahmad Mustaqim • 12 Februari 2020 12:37
Sleman: Keluarga almarhum Akseyna Ahad Dori bersyukur kepolisian di Depok, Jawa Barat kembali menyelidiki dugaan pembunuhan mahasiswa tersebut. Mahasiswa S1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, itu diduga dibunuh.
 
"Minggu kemarin (polisi) olah TKP baru membuka kembali. Pihak keluarga tentu merasa bersyukur kalau ini tetap dibuka dan diselidiki," kata ayah Akseyna, Kolonel Sus Mardoto dihubungi lewat sambungan telepon pada Rabu, 12 Februari 2020.
 
Mardoto mengatakan sudah sekitar 1,5 tahun tak mendengar kinerja kepolisian mengusut dugaan kasus pembunuhan anaknya. Kini, dia merasa ada harapan baru terkait kasus tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Walaupun kita yakin mereka masih berusaha. Kemarin ada ekspos olah TKP baru, harapannya seperti itu. Lebih lagi kalau bisa segera terungkap siapa pelaku pembunuhnya," ujarnya.
 
Dia mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan kepolisian Depok pada 2018. Pihaknya sempat mendatangi kantor kepolisian untuk menanyakan perkembangan kasus pembunuhan Akseyna.
 
Ayah Akseyna Merasa Ada Harapan
Jenazah Akseyna ketika dievakuasi. (ANT/Indrianto Eko Suwarso)
 
Selepas itu, Mardoto tak lagi menanyakan ke polisi. Dia merasa sungkan jika terus menerus menanyakan perkembangan kasus pembunuhan anaknya.
 
"Karena memang dulu waktu pertemuan di Depok, 2018, bulan September atau Oktober, Ya sudah nanti akan diproses terus Pak. Nanti kalau sudah ada apa-apa diinformasikan. Kalau kita tanya terus ke sana kan juga tidak enak," ucap Mardoto.
 
Mardoto hanya berharap pelaku pembunuh Akseyna bisa terungkap. Pihaknya mengaku senang, ada kelanjutan kasus pembunuhan tersebut.
 
"Bagi keluarga, terlihat ada proses dan usaha kasus ini sebenarnya sudah senang. Walaupun lewat media. Intinya bisa mengungkap kasus pembunuhan anak saya," tandasnya.
 
Akseyna ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga UI pada Kamis, 26 Maret 2015. Saat ditemukan, Akseyna tengah menggendong tas berisi sejumlah batu bata.
 
Mulanya, polisi menyatakan meninggalnya Akseyna sebagai kasus bunuh diri. Salah satu indikasi Akseyna tewas bunuh diri diperkuat dari tulisan tangan dalam sepucuk kertas di indekosnya yang bertuliskan: 'Will not return for, please don't search for existence. My apologize for everything eternally.'
 
Tapi, pernyataan itu dikoreksi. Penghujung Mei 2015, Kombes Krishna Murti yang kala itu menjabat Direskrimum Polda Metro menyimpulkan Akseyna tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri.
 
"Ada luka fisik di wajah yang bersangkutan (Akseyna). Kalau dia bunuh diri, harusnya (wajahnya) mulus, tidak ada luka fisik," kata Krisna pada waktu itu.
 
Dugaan Krishna semakin kuat jika Akseyna tewas dibunuh. Pasalnya, Grafolog Deborah Dewi menyatakan tulisan tangan dalam surat di indekos tidak 100 persen otentik tulisan tangan Akseyna.
 

 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif