Ilustrasi. (Foto: MI/Gabriel Langga)
Ilustrasi. (Foto: MI/Gabriel Langga)

Pedagang Seragam Sekolah Paceklik

Nasional pendidikan Virus Korona
Media Indonesia.com • 25 Juni 2020 18:50
Sikka: Menjelang tahun ajaran baru 2020/2021 di masa pandemi covid-19, sejumlah pedagang seragam sekolah di pasar-pasar Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan sepinya pembeli.
 
Salah seorang pedagang seragam sekolah di Pasar Tingkat Maumere, Yustinus Roy, mengatakan penjualan seragam sekolah tahun ini paceklik.
 
"Biasanya masuk tahun ajaran baru, Juni begini, ramai orang tua yang datang untuk membeli seragam sekolah. Terutama yang anaknya baru mau masuk sekolah. Hanya tahun ini saja sepi sekali pembelinya," ungkap Roy, Kamis, 25 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengaku sebelum pandemi covid-19 mampu menjual 10-12 potong seragam sekolah setiap hari. Kali ini sepotong seragam terjual pun, Roy mengaku sudah bersyukur.
 
"Kegiatan belajar mengajar di sekolah kan belum jelas. Apalagi ada sekolah yang memberlakukan KBM jarak jauh. Jadi orang tua berpikir tidak perlu seragam sekolah yang baru," jelas dia.
 
Baca juga:Gugus Tugas Jabar Intensifkan Tes Covid-19 di Stasiun Bogor dan Bojong Gede
 
Akibat kondisi itu, Roy mengatakan pendapatannya terjun drastis hingga 80 persen. Omzet Rp1 juta per hari sebelum pandemi covid-19 menguap begitu saja.
 
"Dengan tidak ada kejelasan sekolah, (penghasilan) hanya Rp100 ribu dalam sehari. Bahkan kadang tidak ada pemasukan," ujar Roy.
 
Pedagang lainnya, Hartono Leo, mengungkapkan, penjualan seragam hingga perlengkapan sekolah mulai tingkat TK-SMA miliknya, tak jauh berbeda dengan yang dialami Roy. Dalam beberapa hari terakhir, pembeli seragam ke kiosnya bisa dihitung jari.
 
"Kalau tahun lalu, toko saya ini ramai sekali yang datang untuk membeli seragam dan perlengkapan sekolah. Kadang-kadang saya kewalahan. Tahun ini karena pandemi covid-19, hanya beberapa orang tua saja yang datang membeli seragam sekolah," ungkap Hartono.
 
Ia menyampaikan penurunan penjualan seragam dan perlengkapan sekolah mencapai 70-80 persen. Hartono menduga, orang tua enggan membeli seragam dan perlengkapan sekolah karena sistem pembelajaran siswa selama masa covid-19 dilakukan secara daring.
 
"Sampai saat ini, toko saya belum ada lonjakan pembeli. Mungkin kita lihat dua-tiga minggu ke depan," paparnya. (Gabriel Langga)
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif