Alasan Jadi Buruh, Pendidikan Rendah dan Persaingan Ketat
Sejumlah buruh beristirahat di deretan gerai setelah mengikuti aksi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di Bekasi, Selasa 1 Mei 2018, Medcom.id - Antonio
Bekasi: Pendidikan rendah dan persaingan kerja yang ketat menjadikan Nafsia Widyaningsih memilih bekerja sebagai buruh. Selain itu, kebutuhan yang mendesak pun kian 'membulatkan' pilihannya untuk menjadi buruh.

Perempuan berusia 38 tahun itu bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Ia bekerja sejak 1997.

Nafsiah mengaku, menjadi buruh sedikit membantu membuat perekonomian keluarga. Meski demikian, ia mengaku gaji yang diterima tak cukup. Pendidikannya pun hanya lulusan SMA, sehingga ia merasa sulit mendapatkan pekerjaan selain buruh.


"Kadang nombok. Tapi ya saya bekerja saja," kata Nafsiah saat berbincang dengan Medcom.id di Lapangan P dan K, Ciketing, Bantargebang, Selasa, 1 Mei 2018.

Dalam sebulan, ia menerima gaji kisaran Upah Minimum Kota Bekasi sekitar Rp3,9 juta dari perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan boneka tempatnya bekerja. Uang itu ia gunakan untuk membiayai sekolah anak dan membayar cicilan rumah.

"Kalau suami bekerja serabutan," ungkap ibu satu orang anak itu.

Nasib serupa pun disampaikan Nur, 22, buruh yang juga bekerja di perusahaan bidang pembutan boneka di Rawalumbu. Ia mengaku ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun, orangtuanya tak mampu membiayai uang kuliah.

"Ya daripada menganggur, mending saya bekerja," kata Nur.

Uang yang ia terima tiap bulan masih di bawah Upah Minumum Kota Bekasi. Ia menggunakan uang itu untuk membantu uang dapur di rumahnya dan biaya sekolah adik-adiknya. Selebihnya, ia menggunakan uang untuk kebutuhannya sendiri.

Lain lagi dengan Sutarno, 38. Buruh yang bekerja di bagian produksi di Bantargebang itu tak ingin selamanya bekerja sebagai buruh. Ia ingin memiliki usaha. Tapi, ia tak memiliki modal.

Ia pun hanya lulusan SMA. Ia tak memiliki keahlian mumpuni. Sehingga, buruh pun menjadi pilihan hidupnya untuk menghidupi istri dan satu anaknya.

"Sekarang banyak lulusan baru dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jadi saingannya kencang," ungkap Sutarno.

 



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id