Sisa-sisa sampah yang dibuang warga ke sungai Bengawan Solo tersangkut di jalur kabel di sisi Jembatan Mojo Semanggi, Kota Surakarta, Jawa Tengah. MI/Ferdinand
Sisa-sisa sampah yang dibuang warga ke sungai Bengawan Solo tersangkut di jalur kabel di sisi Jembatan Mojo Semanggi, Kota Surakarta, Jawa Tengah. MI/Ferdinand

Pemerintah Diminta Membina Industri Pembuang Limbah

Nasional pencemaran sungai
Amaluddin • 12 Desember 2019 16:32
Surabaya: Dirut Perum Jasa Tirta (PJT) I, Raymond Valiant Ruritan, berharap pemerintah tidak gegabah menindak perusahaan pencemar Sungai Bengawan Solo. Langkah itu dinilai tidak tepat karena bakal membuat prekonomian semakin melemah.
 
"Tentu tidak ada yang ingin mematikan industri, apalagi situasi ekonomi kita sedang tidak bagus. Sehingga menurut saya tidak tepat kalau pemerintah menutup perusahaan pembuang limbah, karena itu bakal membuat prekonomian negara semakin melemah," kata Raymond saat dikonfirmasi, Kamis, 12 Desember 2019.
 
Raymond menyarankan pemerintah melakukan pembinaan terhadap perusahaan yang melanggar aturan. Pembinaan yang dimaksud adalah mendorong industri memanfaatkan limbah untuk dikelola kembali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang pasti, industri yang ada belum memiliki tempat mengoperasikan limbahnya. Sehingga limbah dari industri dibuang dan masuk ke Sungai Bengawan Solo," jelas Raymond.
 
Berdasarkan pantauan Jasa Tirta, ada sekitar 80 industri yang limbahnya mencemari Sungai Bengawan Solo. Industri itu berada di hulu Bengawan Solo di sejumlah daerah di Jawa Tengah, mulai dari Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, Solo, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali.
 
"Penegakan hukum adalah langkah terakhir. Saya kira yang paling pertama adalah membina industri supaya bisa taat pada aturan yang ada. Jangan sampai pemerintah memberi hukuman secara kangsung kepada industri. Kalau memang belum bisa taat hari ini, paling tidak berikutnya jangan sampai terjadi lagi," ungkap Raymond.
 
Menurut Raymond kasus pencemaran limbah di Sungai Bengawan Solo tahun ini bukan yang terparah. Kejadian paling parah terjadi sekitar tahun 2005 dan 2006. "Tahun ini belum yang terburuk, tetapi memang ada perubahan warna akibat limbah yang mencemari Sungai Bengawan Solo," pungkas Raymond.
 
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya berharap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menindak tegas pelaku pencemaran Sungai Bengawan Solo. Ini agar industri tidak membuang limbah ke sungai.
 
"Kami berharap yang melakukan pelanggaran, membuang limbah secara tidak bertanggung jawab, seyogyanya mendapatkan peringatan dan sanksi tegas," kata Khofifah, beberapa waktu lalu.
 
Khofifah menyebut kualitas air Bengawan Solo menurun, setelah tercemar limbah tekstil dari perusahaan di Jawa Tengah. Hingga sejumlah daerah di Jatim yang dialiri sungai ikut tercemar, menyebabkan air berwarna merah tua.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif