Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. (Foto: ANTARA/dok. pribadi)
Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. (Foto: ANTARA/dok. pribadi)

Heboh Keraton Agung Sejagat di Purworejo

Nasional kepercayaan
Antara • 14 Januari 2020 18:10
Purworejo: Keraton Agung Sejagat (KAS) ramai diperbincangkan pascagelaran wilujengan dan kirab budaya yang dilaksanakan pada Jumat, 10 Januari 2020 hinga Minggu, 12 Januari 2020 di Purworejo, Jawa Tengah.
 
Melansir Antara, KAS dipimpin oleh seseorang dengan gelar Sinuwun bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Dyah Gitarja yang dipanggil Kanjeng Ratu. Berdasarkan informasi, pengikut KAS mencapai sekitar 450 orang.
 
Bersama TNI, Wakapolres Purworejo Kompol Abdus Arfan Tofani berencana melakukan klarifikasi munculnya KAS di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami mengetahui informasi tersebut. Namun tindak lanjut belum bisa sampai langkah hukum dan kita akan bareng-bareng melakukan klarifikasi," ujarnya, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Andis mengatakan konfirmasi dari pemangku KAS diperlukan lantaran informasi yang beredar simpang siur dan cenderyng meresahkan. Saat ini pihaknya hanya melakukan pendampingan agar masyarakat tak resah dengan kemunculan KAS.
 
"Kami memang sudah komunikasi dengan camat dan kades setempat tentang hal itu. Mereka akan lapor bupati lebih dulu," jelasnya.
 
Keberadaan KAS cukup menarik perhatian lantaran ditandai dengan bangunan semacam pendopo yang belum selesai pembangunannya. Di sebelah utara pendopo terdapar sebuah sendang atau kolam yang disakralkan.
 
Di lokasi itu juga ditemukan batu prasasti bertuliskan aksara jawa. Pada bagian kiri prasasti ada tanda dua telapak kaki, dan di bagian kanan ada semacam simbol. Prasasti ini disebut dengan Prasasti I Bumi Mataram.
 
Penasihat Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat menegaskan KAS bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat. KAS merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.
 
Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518.
 
Jodiningrat menyampaikan dengan berakhirnya perjanjian tersebut, berakhir pula dominasi kekuasaan barat mengontrol dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.
 

(MEL)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif