Kapal Baladewa 8002 Tangkap Nakhoda Pembawa 24 TKI Ilegal

Anwar Sadat Guna 19 November 2018 19:24 WIB
tki ilegal
Kapal Baladewa 8002 Tangkap Nakhoda Pembawa 24 TKI Ilegal
Kabid Humas Polda Kepri (tengah) Kombes Pol S Erlangga dan Kombes Pol Benyamin Sapta (kanan) saat konferensi pers pengungkapan kasus pengiriman pekerja migran Indonesia, di Mapolda Kepri, Senin, 19 November 2018. Medcom.id/ Anwar Sadat Guna.
Batam: Kapal Patroli Polisi Baladewa 8002 Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri menggagalkan pengiriman 24 pekerja migran Indonesia ke Malaysia. Puluhan pekerja tersebut diberangkatkan secara ilegal tanpa dokumen yang sah. Dua orang ditetapkan tersangka dalam kasus tersebut. 

Kedua tersangka yakni, nakhoda berinisial YA dan satu orang anak buah kapal (ABK) berinisial AO. "Penyergapan dilakukan di pelabuhan ilegal di kawasan Teluk Mata Ikan, perairan Nongsa , Kota Batam, Rabu, 14 November 2018 sekitar pukul 23.00 WIB," kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga di Mapolda Kepri, Senin, 19 November 2018.

Erlangga mengatakan, pengungkapan kasus itu berawal dari informasi yang diterima kepolisian bahwa puluhan pekerja migran Indonesia atau TKI akan diberangkatkan secara ilegal dari pelabuhan Teluk Mata Ikan Nongsa. Jajaran Ditpolairud Polda Kepri yang mendapatkan informasi tersebut langsung melakukan penyelidikan. 


"Kapal Patroli Polisi Baladewa 8002 berikut Sea Reader Polri langsung dikerahkan untuk melakukan pengejaran. Setibanya di lokasi, tim patroli berhasil menemukan speed boat. Speed boat ini digunakan untuk membawa 24 pekerja migran indonesia yang akan diberangkatkan ke Malaysia," ungkap Erlangga. 

Jajaran Polairud Polda Kepri kemudian memeriksa muatan dan nakhoda serta ABK. Puluhan pekerja migran yang berada di atas kapal diketahui tidak memiliki dokumen berupa paspor dan dokumen sebagai calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dari ke 24 orang tersebut, sebanyak 22 orang di antaranya laki-laki dan dua orang perempuan. 

"Kepolisian lalu menangkap dua orang pelaku, yakni nakhoda dan ABK speed boat tersebut. Sedangkan 24 pekerja migran turut diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penyergapan dilakukan saat speed boat akan berlayar ke Malaysia," ujar Erlangga.  

Sementara Direktur Polairud Polda Kepri Kombes Benyamin Sapta mengatakan, umumnya para pekerja migran tersebut berasal dari Lombok, NTB. Mereka dijanjikan akan bekerja di perkebunan kepala sawit di Malaysia. "Selain di perkebunan, juga di lokasi peternakan," ujar Benyamin.

Ia menuturkan, puluhan calon pekerja migran ini direkrut dari daerah asalnya dan selanjutnya ditampung di Batam kemudian diberangkatkan ke Malaysia. 

"Ada orang yang bertugas merekrut mereka di daerah asal. Satu orang rata-rata menyerahkan uang Rp1,5 juta-Rp2 juta. Setibanya di Batam ada yang menjemput dan ditampung di suatu tempat untuk selanjutnya diberangkatkan ke Malaysia," ujarnya.

Kepolisian masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap dugaan keterlibatan pelaku lainnya. "Hasil pemeriksaan, kedua tersangka mengaku ini baru pertama kali mereka akan membawa pekerja migran Indonesia ke Malaysia. Namun kasusnya masih kami dalami lebih jauh," ujar Benyamin. 

Kedua tersangka dikenakan Pasal 81 jo pasal 69 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. "Dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 Tahun dan denda paling banyak Rp15 miliar," pungkas Benyamin.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id