medcom.id, Wakatobi: Festival Wakatobi Wonderful Festival & Expo (Wakatobi Wave) 2015 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Kabupaten Wakatobi menampilkan berbagai atraksi budaya. Warga antusias berpartisipasi memeriahkan acara yang digelar pada acara pembukaan Wakatobi Wave 2015 itu Kamis, 26 November.
Atraksi budaya yang digelar di Lapangan Merdeka Kecamatan Wangi-Wangi, Wakatobi itu diawali dengan barisan pasukan Tamburu dan Sara Liya yang berjumlah 13 orang. Mereka membawa tombak dan gendang berbaris masuk ke dalam lapangan dan melintas di depan panggung.
Karnaval budaya ini menampilkan prosesi adat Karia'a seperti Lengko, Kandadio dan Kansoda’a. Karia'a sendiri merupakan prosesi adat untuk khitan atau pemotongan rambut untuk anak di atas lima tahun. Mereka ditandu oleh sejumlah pemuda, dan para ibu menari-nari mengiringi arak-arakan itu. Namun, bukan anak pria yang ditandu, melainkan anak perempuan dengan baju tradisional dan riasan.
Setiap tandu digotong sekitar 8 orang pemuda. Sedangkan di atas tandu terdapat tiga sampai empat anak perempuan.
Karena hiasan bunga-bunga cukup tinggi dan berat, mahkota harus selalu dipegangi agar tidak jatuh. Terlebih para penandu kerap menggoncang-goncang tandu dengan mengangkat-angkatnya sambil berteriak-teriak gembira.
Selain arak-arakan dan tarian parade kostum hias dengan tema alam dan tradisi pesisir pun tak kalah menarik. Para peserta berjalan melewati panggung utama untuk memeragakan rancangan busana. Mereka mengaku senang meski harus bersusah payah menyiapkan kostum untuk acara ini.
La Ode Beanur,33, menyiapkan kostum kuda laut merah, yang merupakan kuda laut terkecil di dunia yang hanya ada di Wakatobi. Selama dua pekan ia menyiapkan rancanangannya. Meski harus beraksi di bawah cuaca panas, Beanur mengaku sangat senang berpartisipasi memeriahkan pembukaan Wakatobi Wave 2015. Sehari-hari ia bekerja di salon Cahaya Moi Spa yang ada di Pasar Sentral Wakatobi. Ia menghabiskan 40 kukusan kasuami untuk rancangannya ini. "Biar panas-panas, senangnya tak terhingga," katanya semringah.
***
Perangkat Kesultanan Buton hadir di panggung kehormatan. Dalam acara ini, Kesultanan Buton memberikan gelar kehormatan 'Wa Ode' kepada Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.
medcom.id, Wakatobi: Festival Wakatobi Wonderful Festival & Expo (Wakatobi Wave) 2015 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Kabupaten Wakatobi menampilkan berbagai atraksi budaya. Warga antusias berpartisipasi memeriahkan acara yang digelar pada acara pembukaan Wakatobi Wave 2015 itu Kamis, 26 November.
Atraksi budaya yang digelar di Lapangan Merdeka Kecamatan Wangi-Wangi, Wakatobi itu diawali dengan barisan pasukan Tamburu dan Sara Liya yang berjumlah 13 orang. Mereka membawa tombak dan gendang berbaris masuk ke dalam lapangan dan melintas di depan panggung.
Karnaval budaya ini menampilkan prosesi adat Karia'a seperti Lengko, Kandadio
dan Kansoda’a. Karia'a sendiri merupakan prosesi adat untuk khitan atau pemotongan rambut untuk anak di atas lima tahun. Mereka ditandu oleh sejumlah pemuda, dan para ibu menari-nari mengiringi arak-arakan itu. Namun, bukan anak pria yang ditandu, melainkan anak perempuan dengan baju tradisional dan riasan.
Setiap tandu digotong sekitar 8 orang pemuda. Sedangkan di atas tandu terdapat tiga sampai empat anak perempuan.
Karena hiasan bunga-bunga cukup tinggi dan berat, mahkota harus selalu dipegangi agar tidak jatuh. Terlebih para penandu kerap menggoncang-goncang tandu dengan mengangkat-angkatnya sambil berteriak-teriak gembira.

Selain arak-arakan dan tarian parade kostum hias dengan tema alam dan tradisi pesisir pun tak kalah menarik. Para peserta berjalan melewati panggung utama untuk memeragakan rancangan busana. Mereka mengaku senang meski harus bersusah payah menyiapkan kostum untuk acara ini.

La Ode Beanur,33, menyiapkan kostum kuda laut merah, yang merupakan kuda laut terkecil di dunia yang hanya ada di Wakatobi. Selama dua pekan ia menyiapkan rancanangannya. Meski harus beraksi di bawah cuaca panas, Beanur mengaku sangat senang berpartisipasi memeriahkan pembukaan Wakatobi Wave 2015. Sehari-hari ia bekerja di salon Cahaya Moi Spa yang ada di Pasar Sentral Wakatobi. Ia menghabiskan 40 kukusan kasuami untuk rancangannya ini. "Biar panas-panas, senangnya tak terhingga," katanya semringah.
***
Perangkat Kesultanan Buton hadir di panggung kehormatan. Dalam acara ini, Kesultanan Buton memberikan gelar kehormatan 'Wa Ode' kepada Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)