Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Meninggal di Kapal, Jenazah ABK Asal Enrekang Dibuang ke Laut

Nasional wni
Muhammad Syawaluddin • 22 Januari 2020 04:08
Makassar: Jenazah seorang anak buah kapal (ABK) pesiar dibuang ke laut lepas. ABK yang diketahui bernama Muhammad Alfatah itu dibuang oleh kapten Kapal karena sakit.
 
Pembuangan jenazah, Muhammad Alfatah warga Desa Banca, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan itu tertuang dalam pemberitahuan Kementerian Luar Negeri RI, Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, bernomor 00574/WN/01/2020/66, tanggal 16 Januari 2020.
 
"Ada datang surat. Bersamaan dengan viralnya di medsos," kata, Kakak Kandung Alfatah, Rasyid, saat dikonfirmasi, di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa 21 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam surat yang diterima keluarga korban, disampaikan terkait kasus pembuangan jenazah ABK WNI ke Laut Lepas. Surat resmi itu ditujukan ke Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kota Makassar.
 
Jenazah Alfatah bersama dengan rekannya telah meninggal dunia di atas kapal pesiar Long Xing 629. Karena, takut penyakit yang diderita oleh dua ABK itu menular maka tindakan itu dilakukan.
 
Mengetahui adiknya meninggal dan dibuang ke laut, pihak keluarga melakukan shalat gaib atas meninggalnya Muhammad Alfatah. Serta mendoakan adiknya.
 
Rasyid mengaku, terakhir berkomunikasi dengan adiknya itu sekitar dua bulan lalu.
 
"Kami sudah lakukan takziah kemarin, takziah dan doa bersama akan dilakukan selama tiga hari kedepan," jelasnya.
 
Menindaklanjuti hal itu, Direktorat Perlindungan WNI dan BHI melalui rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga pada 7 Januari 2019 menyepakati untuk menyampaikan kabar duka ini langsung ke pihak keluarga korban. Pemenuhan hak seperti gaji dan tunjangan akan diberikan kepada keluarga.

Sesuai ketentuan internasional

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu RI Judha Nugraha menjelaskan mengapa jenazah Muhamad Alfatah dibuang ke laut.
 
Judha membenarkan bahwa pada 27 Desember 2019, Alfatah meninggal di Kapal Long Xin 802 menuju Port Apia di Samoa. “Kapten Kapal melarung jenazah Almarhum ke laut karena khawatir adanya penyakit menular yang dapat menjangkiti kru lainnya,” sebut Judha, kepada Medcom.id, 21 Januari 2020.
 
“Sesuai ketentuan internasional, pelarungan (burial at sea) merupakan langkah terakhir (last resort). Kapten kapal harus memiliki alasan yang kuat sebelum memutuskan pelarungan,” jelas Judha.
 
Hal ini yang saat ini tengah didalami oleh Kemenlu melalui KBRI Wellington dan KBRI Beijing bekerjasama dengan otoritas masing-masing negara. Judha menyebutkan Kemenlu juga telah mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan kasus dan pemenuhan hak-hak Almarhum.
 
Sementara ketika ditanya mengenai kebenaran surat yang diterima keluarga korban, Judha membenarkan keberadaan surat tersebut.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif