Lumajang: Bupati Lumajang Thoriqul Haq menegaskan, area terdampak erupsi Gunung Semeru bukan tempat wisata. Thoriq meminta masyarakat tidak mendekat ke wilayah tersebut.
"Soal yang ingin foto-foto, jeprat-jepret, sudah. Bukan waktunya sekarang. Ini bukan tontonan, bukan tempat wisata," kata Thoriq, di Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Kamis, 9 Desember 2021.
Dia mengatakan, masyarakat berfoto atau mengabadikan momen di area terdampak letusan Gunung Semeru akan menghambat proses evakuasi. Banyaknya aktivitas masyarakat yang menggunakan kendaraan di area terdampak letusan Gunung Semeru, menyebabkan transportasi pengangkut bantuan terhambat.
Dia menerangkan, masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan bisa melalui posko. sudah banyak posko yang berdiri dan bisa menerima bantuan.
"Kendala itu banyak orang ke sana, termasuk mobil-mobil yang ke atas. Itu yang membuat masalah," ujarnya.
Baca: 23 Jasad Korban Erupsi Semeru Telah Teridentifikasi
Dalam upaya untuk mengurangi aktivitas masyarakat di area terdampat, personel Satbrimob Polda Jawa Timur melakukan penyekatan. Penyekatan dilakukan untuk mencegah pihak-pihak yang tidak berkepentingan masuk ke dalam lokasi bencana.
Selain warga setempat, petugas, TNI-Polri dan relawan dilarang masuk dan mendekat ke lokasi bencana. Hanya pihak-pihak yang melakukan penanganan bencana yang diperbolehkan masuk ke wilayah terdampak. Ada dua titik penyekatan yang dilakukan oleh personel Satbrimob Polda Jawa Timur, yakni di Depan Balai Desa Supiturang dan perempatan Tugu Pancasila.
Berdasarkan pantauan Antara, titik terdampak paling parah di kawasan Umbulan, Dusun Sumbersari, banyak didatangi warga luar kawasan. Warga dari luar wilayah itu, banyak yang melakukan swafoto atau melakukan siaran langsung menggunakan akun media sosial.
Kawasan Umbulan di Dusun Sumbersari terdampak letusan Gunung Semeru cukup parah. Tercatat ada 20 hektare lahan pertanian yang rusak dan puluhan rumah mengalami rusak berat. Selain itu, ratusan warga juga harus mengungsi akibat bencana tersebut.
Lumajang: Bupati Lumajang Thoriqul Haq menegaskan, area terdampak erupsi
Gunung Semeru bukan tempat wisata. Thoriq meminta masyarakat tidak mendekat ke wilayah tersebut.
"Soal yang ingin foto-foto, jeprat-jepret, sudah. Bukan waktunya sekarang. Ini bukan tontonan, bukan tempat wisata," kata Thoriq, di Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Kamis, 9 Desember 2021.
Dia mengatakan, masyarakat berfoto atau mengabadikan momen di area terdampak letusan Gunung Semeru akan menghambat proses evakuasi. Banyaknya aktivitas masyarakat yang menggunakan kendaraan di area terdampak letusan Gunung Semeru, menyebabkan transportasi pengangkut bantuan terhambat.
Dia menerangkan, masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan bisa melalui posko. sudah banyak posko yang berdiri dan bisa menerima bantuan.
"Kendala itu banyak orang ke sana, termasuk mobil-mobil yang ke atas. Itu yang membuat masalah," ujarnya.
Baca: 23 Jasad Korban Erupsi Semeru Telah Teridentifikasi
Dalam upaya untuk mengurangi aktivitas masyarakat di area terdampat, personel Satbrimob Polda Jawa Timur melakukan penyekatan. Penyekatan dilakukan untuk mencegah pihak-pihak yang tidak berkepentingan masuk ke dalam lokasi bencana.
Selain warga setempat, petugas, TNI-Polri dan relawan dilarang masuk dan mendekat ke lokasi bencana. Hanya pihak-pihak yang melakukan penanganan bencana yang diperbolehkan masuk ke wilayah terdampak. Ada dua titik penyekatan yang dilakukan oleh personel Satbrimob Polda Jawa Timur, yakni di Depan Balai Desa Supiturang dan perempatan Tugu Pancasila.
Berdasarkan pantauan Antara, titik terdampak paling parah di kawasan Umbulan, Dusun Sumbersari, banyak didatangi warga luar kawasan. Warga dari luar wilayah itu, banyak yang melakukan swafoto atau melakukan siaran langsung menggunakan akun media sosial.
Kawasan Umbulan di Dusun Sumbersari terdampak letusan Gunung Semeru cukup parah. Tercatat ada 20 hektare lahan pertanian yang rusak dan puluhan rumah mengalami rusak berat. Selain itu, ratusan warga juga harus mengungsi akibat bencana tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)